(Esai Budaya)
Oleh: A. Bustanul Arif
Manusia dan kesepian adalah dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan. Mereka
adalah pasangan abadi. Mereka ditakdirkan untuk selalu bersama. Selamanya.
Kesepian, dalam
realitasnya, adalah sebuah keterasingan jiwa. Sebuah tempat yang asing di sisi
lain kehidupan. Sebuah realitas yang lain. Ia bisa datang kapan saja,
menghampiri setiap manusia. Ia bisa menyelinap dalam gelap, atau merangsek di
tengah hiruk pikuk masalah. Ia kadang menjelma cinta, tapi kadang juga berwujud
kebencian. Ia sesungguhnya adalah pergolakan. Pertanyaan-pertanyaan yang saling
berkelindan yang bahkan tidak membutuhkan jawaban. Ia adalah chaos. Ia bisa
menjadi sesuatu yang absurd, seperti halnya kehidupan itu sendiri. Tapi
sebegitukan?
Sesungguhnya tidak serta merta demikian.
Kesepian adalah makhluk Tuhan. Ia tidak berwujud nyata, tapi kenyataannya ada.
Ia tidak bisa diraba, tapi bisa dirasa. Ia bisa menjadi teman yang
menentramkan, namun juga bisa mendatangkan ketakutan. Ia adalah kekasih
sekaligus musuh. Ia adalah makhluk tak berjelma dan tak bernama. Anonim.
Sejarah
kehidupan manusia adalah sejarah kesepian. Ketika Adam, manusia pertama,
diciptakan, sesungguhnya Tuhan ingin mencari teman. Teman yang sepadan (yang
bisa menangkap dan memahami kecerdasanNya). Teman yang bisa diajak membangun
kehidupan (dengan akal budinya). Teman yang bisa mencatat sejarah (dengan
semangatnya). Dan ketika Adam masih sendirian, Tuhan mengirimkan “kesepian”
sebagai teman sang ciptaan, sebelum akhirnya Ia ciptakan Hawa dari tulang
rusuknya, sebagai pengganti kesepiannya. Tuhan mengubah kesepian menjadi cinta
yang menyatukan mereka berdua.
Lalu di mana
makhluk bernama kesepian kemudian disemayamkan? Ia ditanamkan di sudut terdalam
hati manusia, dan hanya diizinkan keluar di saat-saat yang paling tepat dan
dibebaskan untuk menjelma menjadi apa saja. Dan hanya manusia, dengan
kebijaksanaan atau kekerdilannya, yang bisa mengenali dan memaknainya.
Mari kita
melompat sedikit ke realitas kehidupan yang lebih dekat. Kita melompat pada
sejarah “bunuh diri” yang dilakukan banyak orang besar dalam sejarah. Mereka
yang memiliki popularitas, kekuasaan, uang, dan lain-lain, namun begitu dicekam
kesepian hingga jiwanya tidak bisa bertahan, lalu diambillah sikap keputusasaan
dan dipilih tindakan bunuh diri.
Marilyn Monroe,
bisa jadi adalah wanita paling fenomenal sedunia. Ia dinobatkan sebagai wanita
tercantik dengan popularitas yang mengagumkan. Sampai saat ini ia masih menjadi
ikon pop dunia. Namun, bagaimana ia berakhir. Ia mati bunuh diri pada 5 Agustus
1962. Apa yang menyebabkannya? Tak lain adalah kesepian yang merongrong
jiwanya. Jauh di dalam hatinya ia terasing. Ia terlempar di dunia antah
berantah yang tidak bisa dikenalinya. Di situlah ia menangis namun tidak ada
yang peduli atau menolong, karena hanya ia yang tahu kesepiannya.
Adolf Hitler,
manusia terkejam sepanjang sejarah peradaban manusia, dengan kekuasaan yang
tiada tara, harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri bersama wanita simpanan
yang baru dikawininya, Eva Braun
pada 30
April 1945. Mengapa? Kesepian menerornya sitiap detik, memburunya dan tidak
memberi kesempatan untuk melarikan diri. Kesepian telah membelenggunya.
Kebesaran dan kekuasaannya telah menyeret jiwanya dalam keterasingan absolut.
Ia bahkan menyadari ternyata Tuhanpun meninggalkannya. Ia sendirian. Kesepian.
Lalu menyempurnakan kesepiannya dalam kematian. Kesepian absolut, dan purba.
Itulah
sepenggal kisah tentang manusia dan kesepiannya. Sebuah tragedi yang beraras pada
sikap skeptis terhadap kesepian. Tragedi yang bermuara pada keputusasaan
terhadap kesepian. Sekaligus, itu adalah ironi terbesar manusia; dikalahkan
oleh kesepiannya sendiri.
KESEPIAN DAN
SAYAP-SAYAP TUHAN
Sepi
sesungguhnya punya makna yang sangat dalam. Ia adalah sublimasi dari kerinduan
terdalam manusia. Sepi menjadi kesadaran bahwa manusia tidak bisa sendirian. Ia
membutuhkan sesuatu yang lain, yang lebih absolut, yang lebih mutlak, yakni
kekuatan tertingi yang tak tertandingi. Kekuatan puncak yang menawarkan
segalanya; kenyamanan, ketenteraman, ketenangan, dan kedamaian.
Ketika manusia
merasa sepi, ia sesungguhnya membutuhkan sesuatu yang lain selain realitas yang
melingkupinya. Ia membutuhkan sesuatu yang lain selain makhluk. Ia membutuhkan
sang khalik. Dan sesungguhnnya, kesepian adalah sayap-sayap Tuhan yang
dikibarkan di hati kita, umat manusia. Kesepian adalah sebuah hembusan
kerinduan akan kasih sayangnya, cinta yang tak tertandingi, yang melampaui
segala-galanya, termasuk melampaui hasrat itu sendiri.
Marilah kita
tengok kembali ke dalam lubuk hati kita, saat kita merasa sepi, sendiri, bahkan
ketika kita berada dalam keramaian, apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Ketika
semua benda, manusia, atau ornament-ornamen yang lain tidak bisa menawarkan
kesepian kita, apa yang paling kita butuhkan? Pertolongan macam apa yang kita
harapkan? Sentuhan macam apa yang kita dambakan? Sesungguhnya kita membutuhkan
belaian Tuhan.
Di sinilah
kesepian menjadi sinyal dari Tuhan bahwa jiwa kita sedang kosong dan kita
membutuhkan belaian kasih sayangnya. Kita butuh dihampiri Tuhan, mungkin
dipeluk, direngkuh, didamaikan. Di saat itulah kita akan menjadi tenang. Di
saat Tuhan datang menghampiri kita, betapa terhiburnya kita. Lalu kesepian yang
mencekam itu menjelma menjadi cinta dan ketenteraman, betapa kita telah
memilikinya. Sesungguhnya, sayap-sayap Tuhan sedang melindungi kita dari
ketersesatan yang tiada kita sadari. Tuhan menyelamatkan kita.
Cobalah kita
tengok para sufi. Mereka hidup dalam kesepian. Mereka tinggal dalam
kesendirian. Kesepian dan kesendirian menjadi ruang yang paling tepat untuk
mereka bertemu Tuhannya. Mereka memelihara kesepian dalam hatinya. Mereka
memelihara Tuhan dalam hatinya. Kesepiannya adalah kehadiran Tuhannya.
Kesepiannya menjelma Tuhannya. Karena Tuhan adalah kesepian itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar