Minggu, 06 Januari 2013

MANUSIA, KESEPIAN, DAN SAYAP-SAYAP TUHAN


(Esai Budaya)
Oleh: A. Bustanul Arif


Manusia dan kesepian adalah dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan. Mereka adalah pasangan abadi. Mereka ditakdirkan untuk selalu bersama. Selamanya.
Kesepian, dalam realitasnya, adalah sebuah keterasingan jiwa. Sebuah tempat yang asing di sisi lain kehidupan. Sebuah realitas yang lain. Ia bisa datang kapan saja, menghampiri setiap manusia. Ia bisa menyelinap dalam gelap, atau merangsek di tengah hiruk pikuk masalah. Ia kadang menjelma cinta, tapi kadang juga berwujud kebencian. Ia sesungguhnya adalah pergolakan. Pertanyaan-pertanyaan yang saling berkelindan yang bahkan tidak membutuhkan jawaban. Ia adalah chaos. Ia bisa menjadi sesuatu yang absurd, seperti halnya kehidupan itu sendiri. Tapi sebegitukan?
 Sesungguhnya tidak serta merta demikian. Kesepian adalah makhluk Tuhan. Ia tidak berwujud nyata, tapi kenyataannya ada. Ia tidak bisa diraba, tapi bisa dirasa. Ia bisa menjadi teman yang menentramkan, namun juga bisa mendatangkan ketakutan. Ia adalah kekasih sekaligus musuh. Ia adalah makhluk tak berjelma dan tak bernama. Anonim.
Sejarah kehidupan manusia adalah sejarah kesepian. Ketika Adam, manusia pertama, diciptakan, sesungguhnya Tuhan ingin mencari teman. Teman yang sepadan (yang bisa menangkap dan memahami kecerdasanNya). Teman yang bisa diajak membangun kehidupan (dengan akal budinya). Teman yang bisa mencatat sejarah (dengan semangatnya). Dan ketika Adam masih sendirian, Tuhan mengirimkan “kesepian” sebagai teman sang ciptaan, sebelum akhirnya Ia ciptakan Hawa dari tulang rusuknya, sebagai pengganti kesepiannya. Tuhan mengubah kesepian menjadi cinta yang menyatukan mereka berdua.
Lalu di mana makhluk bernama kesepian kemudian disemayamkan? Ia ditanamkan di sudut terdalam hati manusia, dan hanya diizinkan keluar di saat-saat yang paling tepat dan dibebaskan untuk menjelma menjadi apa saja. Dan hanya manusia, dengan kebijaksanaan atau kekerdilannya, yang bisa mengenali dan memaknainya.
Mari kita melompat sedikit ke realitas kehidupan yang lebih dekat. Kita melompat pada sejarah “bunuh diri” yang dilakukan banyak orang besar dalam sejarah. Mereka yang memiliki popularitas, kekuasaan, uang, dan lain-lain, namun begitu dicekam kesepian hingga jiwanya tidak bisa bertahan, lalu diambillah sikap keputusasaan dan dipilih tindakan bunuh diri.
Marilyn Monroe, bisa jadi adalah wanita paling fenomenal sedunia. Ia dinobatkan sebagai wanita tercantik dengan popularitas yang mengagumkan. Sampai saat ini ia masih menjadi ikon pop dunia. Namun, bagaimana ia berakhir. Ia mati bunuh diri pada 5 Agustus 1962. Apa yang menyebabkannya? Tak lain adalah kesepian yang merongrong jiwanya. Jauh di dalam hatinya ia terasing. Ia terlempar di dunia antah berantah yang tidak bisa dikenalinya. Di situlah ia menangis namun tidak ada yang peduli atau menolong, karena hanya ia yang tahu kesepiannya.
Adolf Hitler, manusia terkejam sepanjang sejarah peradaban manusia, dengan kekuasaan yang tiada tara, harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri bersama wanita simpanan yang baru dikawininya, Eva Braun pada 30 April 1945. Mengapa? Kesepian menerornya sitiap detik, memburunya dan tidak memberi kesempatan untuk melarikan diri. Kesepian telah membelenggunya. Kebesaran dan kekuasaannya telah menyeret jiwanya dalam keterasingan absolut. Ia bahkan menyadari ternyata Tuhanpun meninggalkannya. Ia sendirian. Kesepian. Lalu menyempurnakan kesepiannya dalam kematian. Kesepian absolut, dan purba.
Itulah sepenggal kisah tentang manusia dan kesepiannya. Sebuah tragedi yang beraras pada sikap skeptis terhadap kesepian. Tragedi yang bermuara pada keputusasaan terhadap kesepian. Sekaligus, itu adalah ironi terbesar manusia; dikalahkan oleh kesepiannya sendiri.
KESEPIAN DAN SAYAP-SAYAP TUHAN
Sepi sesungguhnya punya makna yang sangat dalam. Ia adalah sublimasi dari kerinduan terdalam manusia. Sepi menjadi kesadaran bahwa manusia tidak bisa sendirian. Ia membutuhkan sesuatu yang lain, yang lebih absolut, yang lebih mutlak, yakni kekuatan tertingi yang tak tertandingi. Kekuatan puncak yang menawarkan segalanya; kenyamanan, ketenteraman, ketenangan, dan kedamaian.
Ketika manusia merasa sepi, ia sesungguhnya membutuhkan sesuatu yang lain selain realitas yang melingkupinya. Ia membutuhkan sesuatu yang lain selain makhluk. Ia membutuhkan sang khalik. Dan sesungguhnnya, kesepian adalah sayap-sayap Tuhan yang dikibarkan di hati kita, umat manusia. Kesepian adalah sebuah hembusan kerinduan akan kasih sayangnya, cinta yang tak tertandingi, yang melampaui segala-galanya, termasuk melampaui hasrat itu sendiri.
Marilah kita tengok kembali ke dalam lubuk hati kita, saat kita merasa sepi, sendiri, bahkan ketika kita berada dalam keramaian, apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Ketika semua benda, manusia, atau ornament-ornamen yang lain tidak bisa menawarkan kesepian kita, apa yang paling kita butuhkan? Pertolongan macam apa yang kita harapkan? Sentuhan macam apa yang kita dambakan? Sesungguhnya kita membutuhkan belaian Tuhan.
Di sinilah kesepian menjadi sinyal dari Tuhan bahwa jiwa kita sedang kosong dan kita membutuhkan belaian kasih sayangnya. Kita butuh dihampiri Tuhan, mungkin dipeluk, direngkuh, didamaikan. Di saat itulah kita akan menjadi tenang. Di saat Tuhan datang menghampiri kita, betapa terhiburnya kita. Lalu kesepian yang mencekam itu menjelma menjadi cinta dan ketenteraman, betapa kita telah memilikinya. Sesungguhnya, sayap-sayap Tuhan sedang melindungi kita dari ketersesatan yang tiada kita sadari. Tuhan menyelamatkan kita.
Cobalah kita tengok para sufi. Mereka hidup dalam kesepian. Mereka tinggal dalam kesendirian. Kesepian dan kesendirian menjadi ruang yang paling tepat untuk mereka bertemu Tuhannya. Mereka memelihara kesepian dalam hatinya. Mereka memelihara Tuhan dalam hatinya. Kesepiannya adalah kehadiran Tuhannya. Kesepiannya menjelma Tuhannya. Karena Tuhan adalah kesepian itu sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar