“Al’ilmu qariibul ba’iid, wal maalu ba’iidul qariib”
(Ilmu itu mendekatkan yang jauh, sedang harta menjauhkan yang dekat)

Itu adalah nasihat terbaik yang pernah saya dapatkan dari adik saya Abdul Rouf Mubarok. Ia mendapatkan nasihat itu dari seorang kyainya di Pandeglang Banten, yaitu Abuya Dimyathi (alm.). Nasihat itu pulalah yang kemudian menyelamatkan hidup saya.
Tahun 1997 adalah tahun krisis di Indonesia dan keluarga kecil saya di Bojonegoro adalah salah satu yang terkena dampaknya. Ekonomi semakin sulit, rakyat semakin miskin. Ibu saya yang seorang pedagang di pasar tradisional juga sangat terpengaruh dengan perubahan itu. Saat itulah tingkat kehidupan keluarga saya semakin merosot. Saya yang menempuh kuliah pun mulai jarang mendapat kiriman, karena ekonomi makin sulit. Di akhir-akhir semester saya bahkan tidak mendapat kiriman sehingga saya harus berjuang sendiri untuk survive. Kadang saya menjual baju-baju dari Bandung, celana jeans, dan lain-lain. Pokoknya apapun yang bisa menghasilkan uang.
Januari 2005 saya menikah. Saat itu saya mempunyai usaha kecil di bidang advertising (cetak & sablon). Kurun waktu 2005 sampai 2006 saya hidup dengan usaha kecil itu. Lumayan karena saya kadang-kadang memenangi tender pengadaan di lembaga, kampus, dan memiliki pelanggan tetap perusahaan besar. Namun memasuki tahun 2007 kondisi kembali berubah. Hadirnya pemain-pemain besar bidang advertising yang membawa teknologi baru berupa digital printing dan manajemen yang terorganisir dengan baik membunuh para usahawan kecil bidang yang sama, termasuk saya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk bekerja. Saya kemudian diterima di kapanlagi.com sebagai editor. Namun, ternyata naluri dan jiwa saya bukan naluri dan jiwa pekerja. Saya tidak betah menjadi karyawan. Saya pengennya menjadi pengusaha.
Saat itulah saya bertemu dengan perusahaan network marketing yang saat itu sedang berada di jalur teratas industri network marketing di Indonesia. Saya bergabung dengan perusahaan itu dengan antusiasme yang luar biasa. Bahkan boleh dikata membabi buta. Saking membabi butanya, saya pun benar-benar menjadi buta terhadap dimensi-dimensi lain kehidupan, termasuk dimensi-dimensi lain indikator pencapaian prestasi hidup. Saat itu di pikiran saya hanya ada satu tujuan: uang. Dan itulah yang kemudian saya sadari sebagai kesalahan terbesar saya.
Saya berjuang dengan sangat keras untuk mencapai target-target yang saya buat sendiri. Bukan hanya saya, istri saya juga melakukan hal yang sama. Tetapi anehnya, uang yang saya kejar tak kunjung saya dapat. Artinya nominal yang saya dapatkan tak sesuai yang saya targetkan. Saya kemudian bertanya: apa yang salah? Yang membuat saya sedikit putus asa adalah orang-orang yang kemampuannya tidak lebih baik dari pada saya, yang pengalaman dan tingkat pendidikannya jauh di bawah saya bisa mendapatkan penghasilan besar dan bisa sukses di sana, mengapa saya belum juga sampai pada kesuksesan yang saya harapkan? Saya terus bertanya dan mempertanyakan. Saya tahu tidak ada yang salah dengan perusahaan yang saya ikuti. Saya percaya sistemnya luar biasa, manajemennya juga sangat berpihak kepada para distributornya. Pokoknya perusahaan, marketing plan, support sistem, dan produknya sangat luar biasa dan hampir bisa dikatakan sempurna. Saya yakin ada yang salah. Bukan yang di luar diri saya, tetapi di dalam diri saya.
Ternyata, kesalahan saya adalah saya sangat berambisi dengan uang dan kekayaan. Karena ambisi itulah maka uang dan kekayaan justru menjauh dari saya. Bukan hanya itu, keluarga, saudara, teman, kolega, semua juga menjauh. Semakin saya kejar, ternyata uang itu semakin menjauh. Semakin kencang saya mengejar, semakin kencang pula ia berlari menjauhi saya.
Akibat dari kondisi itu adalah rumah tangga saya menghadapi krisis yang luar biasa. Hubungan saya dengan istri di ambang perceraian. Saya tidak lagi dipercaya oleh orang tua, apalagi mertua saya. Bahkan saya dianggap dan dicap sebagai biang malapetaka. Saya betul betul ada di titik nadir.
Puncaknya, mertua saya memisahkan saya dari istri dan anak saya. Saya harus pergi dari rumah untuk memperbaiki segala sesuatunya. Namun, apapun upaya saya untuk menata belum membuahkan hasil. Saya ada di ambang putus asa. Untungnya, saya memiliki mentor yang sangat tulus dalam membantu saya. Hubungan kami bukan hanya hubungan bisnis, tapi keluarga. Beliau adalah upline saya di perusahaan yang saya ikuti. Ketulusan dan keikhlasannya luar biasa. Untuk kesekian kalinya beliau membantu saya, mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya. Padahal secara bisnis saya belum memberikan kontribusi berarti bagi mereka. Saya ditampung di rumahnya, makan, tidur, di sana, dan berusaha memperbaiki kondisi saya dengan mereka juga. Bahkan, beliaulah yang berjasa menyelamatkan saya dari perceraian dengan istri (dengan izin Allah).
Bersama beliau kami sempat menjalani bisnis-bisnis besar yang berproyeksi penghasilan ratusan juta hingga milyaran, namun kandas di tengah jalan. Kami juga berusaha mendapatkan proyek besar dengan mendirikan perusahaan (CV) yang menjalin kerjasama dengan PTPN, tapi gagal juga. Kami terus berusaha tak kenal putus harapan. Satu hal yang menguatkan saya, yaitu lagunya Maher Zein, Insyaallah. Bahwa pasti ada jalan dari setiap kebuntuan, karena Allah selalu bersama kita.
Selain itu, pendidikan di perusahaan saya telah membentuk mental saya menjadi pejuang yang tak kenal kata kalah. Bahwa kemenangan harus diraih, sesulit dan seterjal apapun jalannya. Bahwa takdir kita adalah kita sendiri yang merencanakannya. Oleh karena itu saya terus berusaha, terus berusaha, terus, terus, dan terus hingga..... saya kelelahan.
Di saat lelah jiwa dan raha itulah saya mencoba berdiam, merenung, mencari-cari apa yang salah dengan diri saya. Entahlah, di saat itu tiba-tiba saya sangat merindukan ibu di Bojonegoro. Tanpa saya sadari saya menangis, seperti tangis anak kecil yang ditinggal ibunya. Saat itu saya betul-betul membutuhkan ibu. Saya rindu dengan ibu. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya. Saya terlalu sibuk dengan diriku sendiri, dengan hidupku sendiri. Saya sibuk dengan persoalan yang menjeratku.
Maka kemudian saya putuskan untuk pulang. Kembali ke haribaan ibu. Memohon perlindungan. Memohon dukungan. Ketika saya datang ke rumah ibu saya datang sebagai orang yang kalah, yang menyerah, dan pasrah. Saya membutuhkan saran dan pemikiran keluarga tentang hal yang harus saya lakukan. Dan entahlah, meskipun saya tidak bercerita kondisi saya, tapi mereka tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Mungkin aura yang tampak pada diri saya yang tidak bisa saya sembunyikan. Selain itu saya menyadari bahwa seorang ibu selalu terhubung dengan anaknya di manapun anaknya berada. Jadi ia akan merasakan apapun yang dirasakan anakknya. Feeling seorang ibu tak bisa dibohongi. Dan ibuku merasakan itu juga bahkan hingga beliau jatuh sakit. Tensi darahnya naik dan beliau kena gejala stroke. Belakangan saya tahu itu bukan masalah fisiologis tetapi masalah psikologis; beliau terlalu memikirkan saya.
Ketika di rumah itulah saya mendapatkan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan adik saya secara pribadi. Ia menasehati saya begini: “Kak aku lihat kakak itu terlalu terobsesi pada dunia, pada uang, pada kekayaan. Padahal kakak sendiri sudah merasakan semakin dikejar, uang itu akan semakin menjauh. Semakin dikejar kekayaan itu semakin lari. Kakak melupakan sesuatu yang sangat penting bahwa hidup ini tidak melulu uang. Dimensi kehidupan itu banyak. Intinya dalam hidup ini bagaimana kita bisa hidup tenang tenteram dan bahagia. Dan kebahagiaan itu tidak terletak di uang dan kekayaan, tapi pada apa yang kita lakukan dan berarti. Selain itu, kakak adalah orang berilmu. Naïf kalau kakak terjebak mengejar dunia. Dunia itu mudah asalkan kita mau mengamalkan ilmu. Kuncinya di situ kak amalkan ilmu nanti uang datang sendiri.”
Lalu ia menyitir maqalah kyainya di Pandeglang Banten, Abuya Dimyathi, “Al ‘ilmu qariibul ba’id, wal maalu ba’idul qarib,” ilmu itu mendekatkan yang jauh sementara harta itu menjauhkan yang dekat. “Coba direnungkan selama kakak mengejar uang dan kekayaan banyak nggak yang semakin menjauh dari kakak?”
Saya merenung dan menyadari perkataan adik saya itu benar. Saya semakin jauh dengan hal-hal dan apa saja yang dulunya dekat dengan saya, atau mereka semua menjauh. Bahkan uang dan kekayaan yang saya kejarpun menjauh. Lalu ia memberikan contoh-contoh yang layak dijadikan pelajaran.
Salah seorang temannya, sebut saja namanya Ahmad, dulunya adalah seorang guru madrasah di sebuah desa terpencil. Dari profesinya menjadi guru itu ia mendapat penghasilan sebesar Rp 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) setiap bulan. Bayangkan, gaji sekecil itu bisa untuk mencukupi apa? Ia lalu membuka usaha counter HP sebagai sumber tambahan. Alhamdulillah usahanya maju pesat, penghasilannya jutaan rupiah. Karena kemajuan usahanya itu ia kemudian berpikir untuk meninggalkan profesi gurunya karena hasilnya tak sebanding dan lebih menguntungkan membuka usaha. Maka dilepasnya pekerjaannya sebagai guru. Ia fokus pada usahanya. Tapi apa yang terjadi kemudian, alih-alih semakin maju dan berkembang usahanya semakin surut dan bahkan mendekati bangkrut. Utangnya banyak. Lalu di tengah keputusasaannya ia datang ke salah satu gurunya di pondok pesantren. Belum sempat ia bercerita sang guru sudah berkata dengan lantang: “Kembalilah jadi guru. Mengajarlah. Amalkan ilmu. Rezekimu akan kembali besar.”
Maka diputuskannya untuk kembali mengajar di madrasah ibtidaiyah (SD), dan benar kata gurunya usahanya kembali bangkit dan berkembang. Pelajaran yang bisa diambil adalah: mengamalkan ilmu itu mendatangkan berkah dan kemudahan. Rezeki bukanlah urusan matematika, tapi urusan amal kebaikan. Rezeki bukan urusan manusia tetapi urusan Allah. Betapa banyak orang yang mempunyai uang dan kekayaan melimpah tetapi karena tidak mendapatkan berkah maka kehidupannya dan keluarganya kacau. Mereka lebih banyak tidak berbahagia.
Contoh lain ada seorang kyai di kabupaten Lamongan yang mempunyai pondok pesantren dengan banyak santri. Kyai itu sangat kaya karena memiliki banyak usaha dan bisnis. Seiring berjalannya waktu usahanya semakin berkembang dan semakin menuntut banyak perhatian. Maka sang kyai mulai lebih fokus pada bisnisnya. Sementara tugasnya sebagai pendidik santri yang mengajari kitab ditinggalkan. Namun apa yang terjadi kemudian. Justru usaha dan bisnisnya mulai kacau dan merosot tajam. Iapun semakin pusing memikirkannya. Sampai suatu saat ia secara tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang sangat tua renta di sebuah hutan di Lamongan. Ia tidak mengenal orang tua itu tetapi orang tua itu berkata padanya: “Urusi santri-santrimu!” Maka ia sadar bahwa ia telah meninggalkan amanah terbesarnya yaitu mengamalkan ilmu kepada santri-santrinya. Ia telah sibuk dengan urusan dunianya.
Akhirnya ia memutuskan kembali mengajar santri-santrinya. Ia kembali pada fitrahnya sebagai kiyai. Apa yang terjadi dengan bisnisnya kemudian? Keajaiban! Karena usahanya dengan sendirinya berkembang lebih pesat dari sebelumnya. Bahkan ia sekarang memiliki saham di beberapa perusahaan besar termasuk perusahaan baja di India. Amazing!
Itu semua karena berkah. Sekali lagi: BERKAH. Inilah hukum rezeki yang sering kali kita lupa atau lupakan. Ini adalah faktor kali dari rezeki. Faktor ajaib yang diberikan Allah. Karena itulah saya sendiri akhirnya mengubah haluan dari memburu uang dan kekayaan beralih ke mengamalkan ilmu dengan niat karena Allah.
Selama bulan Mei 2012 saya berpikir keras untuk melakukan perubahan radikal dalam hidup. Saya merasa kehidupan saya sudah mentok. Stagnan. Buntu. Dan saya harus segera mendapat jalan keluar. Saya merasa semakin suram saja masa depan saya di Malang. Lalu muncullah ide untuk hijrah. Ya, hijrah. Saya harus keluar dari segala hiruk pikuk yang melingkupi dan menjerat saya selama ini. Saya harus keluar dari lingkungan yang tidak mendukung pada perubahan ini. saya harus hijrah. Seperti Nabi Muhammad yang hijrah untuk mendapatkan lingkungan yang lebih positif. Begitulah semestinya.
Maka saya segera berkomunikasi dengan salah seorang teman, sahabat terbaik, di Kalimantan. Saya komunikasi dan berdiskusi beberapa kali dengannya dan ia mendukung saya untuk hijrah ke sana. Lalu saya komunikasikan ke istri ia setuju. Tinggal minta restu orang tua. Bapak mertua dan adik dari istri sangat mendukung jika itu adalah pintu perubahan nasib kami, tapi ibu mertua dan kakak agak keberatan. Lalu saya pergi ke orang tua saya, mengokunikasikan rencana hijrah saya ke Kalimantan. Ternyata mereka semua setuju. Ibu yang dulu pernah memberati kini sudah ikhlas. Begitu juga dengan bapak embah dan adik-adik saya. Mereka hanya berpesan satu hal dan ini juga merupakan syarat restu dan dukungan mereka, yaitu saya hijrah bukan untuk uang, tetapi untuk mengamalkan ilmu niat lillahi ta’ala. Saya menyanggupinya.
Singkatnya, dengan bekal uang 200 ribu saya terbang ke Kalimantan. Alhamdulillah, jika kita punya niat dan tekat pertolongan selalu datang. Saya sudah disiapkan tiket oleh sahabat saya tadi. Begitu turun dari pesawat saya langsung menghembuskan nafas dan berdoa kepada Allah: Ya Allah, saya niat hujrah karena Engkau. Semua ini saya lakukan demi menggapai ridhomu.”
Dari bandara saya naik ojek ke Pelabuhan Kampung Baru lalu naik speed boat menuju Penajam Paser Utara. Di seberang saya sudah ditunggu oleh suami sahabat saya dan kemudian dibawa menuju rumahnya. Saya untuk sementara numpang di rumahnya.
Satu bulan berlalu, saya belum mendapatkan sumber penghasilan. Namun saya berhasil menjalin kerjasama dengan sebuah lembaga kursus untuk menambah pelajaran kursus yaitu bahasa Inggris dan saya yang mengelolanya. Saya sudah merancang istri yang akan saya datangkan untuk menjadi instrukturnya. Maka saya langsung membuka pendaftaran dan akan memulai kursus pertama pada tanggal 18 Juli 2012. Berarti istri saya harus datang paling lambat seminggu sebelum tanggal itu. Namun, sampai saat mendekati tanggal itu sayan belum bisa mengirimi istri uang untuk ongkos berangkat ke Kalimantan. Namun, berkat tekat yang kuat dan terus berdoa memohon pertolongan dari Allah, akhirnya bisa juga istri dan anak saya berangkat. Semua adalah keajaiban. Bahkan untuk menjemput istri ke bandara pun saya tidak punya uang sepeserpun. Tapi Allah memang Maha Penolong, dengan bantuan teman saya bisa menjemput istri di bandara dan berkumpul dengan saya di rumah teman. Kami tinggal di sana kurang lebih 2 minggu, sebelum akhirnya bisa mengontrak rumah sendiri.
Ketika akhirnya kami bisa mengontrak rumah dengan uang yang kami dapatkan secara ajaib, yakni seorang teman membayar biaya les untuk anaknya sebesar 600.000. Padahal istri belum memulai lesnya. Tapi inilah pertolongan Allah (sekali lagi). Di rumah baru kami dalam waktu satu minggu sudah mendapatkan murid les 4 orang. Alhamdulillah, mereka datang sendiri tanpa kami bersusah payah mencarinya.
Kami menempati rumah itu hanya satu bulan. Sebenarnya kami masih kerasan dengan rumah itu karena tempatnya bagus, bersih, luas, dan tenang. Selain itu saya bertransaksi menyewa rumah itu selama 6 bulan. Sayangnya memang rumah itu kosongan. Ya namanya kontrakan, ya mesti kosong. Nggak ada barang apapun. Apalagi rumah itu baru selesai dibangun sebulan yang lalu.
Tiba-tiba kami mendapat tawaran untuk menempati kontrakan baru yang lebih dekat dengan sekolah anak, masjid, dan di lingkungan yang sudah aku kenal selama satu bulan. Dengan pertolongan Allah pula akhirnya kami bisa pindah dengan harga sewa yang lebih murah yaitu 300 ribu. Padahal rumahnya sangat luas (3 kali rumah sebelumnya). Lebih beruntungnya lagi kami diperbolehkan menempati rumah itu tanpa bayar dulu. Artinya biaya sewa dihitung mulai bulan depan. Yang lebih mengejudkan lagi di rumah itu ada dipan, meja makan, lemari pakaian besar, dua buffet, dan sofa. Airnya juga lebih jernih. Pokoknya lebih maknyus lah. Sekali lagi kami menyadari betapa Allah telah mengatur semuanya. Kami ditempatkan di tempat yang terhormat (bukan sekedar layak). Mungkin itu juga jawaban dari doa-doa kami: “Ya, Allah, kami pasrahkan hidupku kepadaMu. Kami tahu Engkau bisa mengurus hidup kami lebih baik dari kami bisa mengatur hidup kami sendiri. Maka tempatkanlah kami di tempat yang mulia dan terhormat di sini. Datangkan kepada kami hanya kebaikan, keberkahan, kelimpahan, dan kebahagiaan. Kami pasrahkan hidup kami padaMu, ya Allah.”
Dan Alhamdulillah Allah betul-betul menata hidup kami. Kami sekarang lebih pasrah dan percaya sepenuhnya kepada Allah untuk menjalaninya. Kami tak lagi ngotot menginginkan cara kami, karena kami telah menyadari bahwa terkadang cara kami (yang menurut kami baik dan tepat) ternyata tidak baik menurut Allah. Kami pun akhirnya menyadari bahwa Allah maha berkehendak. Bahwa rizki itu hak prerogatif Allah. Ia bisa mendatangkannya dari arah mana saja yang Ia kehendaki. Allah tak memiliki kewajiban untuk menuruti kita. Kita yang harus menerima dengan ikhlas jika Allah mendatangkan rezeki kita dari arah yang tidak kita sangka bahkan mungkin tidak terpikirkan, atau bahkan lagi tidak kita inginkan. Kami sangat menyadari itu karena begitulah Allah mengatur hidup kami.
Sejak kepindahan ke tempat baru ini secara berangsur-angsur dalam waktu yang sangat cepat rezeki datang seperti bah yang tiba-tiba. Orang-orang pada datang ke rumah kami untuk meminta anaknya dibimbing belajar. Kami bahkan tak bisa menolak karena mempertimbangkan kebutuhan mereka akan pertolongan. Sekali lagi kami tercengang. Ternyata benar kata adikku bahwa ilmu itu mendekatkan yang jauh. Apa yang selama ini saya kejar dengan begitu keras dan rasa-rasanya seperti mati-matian, yaitu uang yang semakin saya kejar semakin menjauh, kini datang dengan sendirinya kepadaku tanpa upaya yang banyak. Kami hanya bermodal niat ingsung ngamalno ilmu lillahi ta’ala (saya berniat mengamalkan ilmu karena Allah SWT), dan modal niat itu dijawab oleh Allah dengan ketercukupan. Alhamdulillah.
Jika kami merenungkan semua ini kami tak henti-hentinya bersyukur atas semua karunia dan kebaikan yang diberikan kepada kami. Bukan hanya rizki berupa materi, tetapi juga untuk yang lebih fundamental dari semua itu dan menurut saya sangat luar biasa, yakni KETENANGAN HIDUP, KETENTERAMAN, KEBAHAGIAAN, DAN PERASAAN TERCUKUPI. Apa yang selama ini saya rindukan sebagai dasar kebahagiaan, yaitu bersatunya pemikiran dan visi antara saya dengan istri yang bisa nyambung membuat segalanya begitu mudah. Mungkin ini juga salah satu sebab, yakni bersatunya energi yang sebelumnya saling bertentangan. Selama ini saya dan istri ada di jua jalur rel yang berbeda. Kami punya arah sendiri-sendiri. Kami punya tujuan yang berbeda. Karena kali ini kami bisa bersatu, maka jalan kami semakin mudah. Dan untuk ini saya sangat bersyukur kepada Allah yang telah menyatukan kami berdua dari ego masing-masing.
Salah satu perantara bersatunya kami berdua adalah buku THE SCIENCE AND MIRACLE OF ZONA IKHLAS karya Erbe Sentanu. Saya sudah melihat buku itu empat tahun yang lalu tapi saya enggan menjamahnya. Saat itu saya sangat tidak tertarik, sebagaimana saya tidak tertarik pada buku sebelunya, yaitu QUANTUM IKHLAS. Tapi ternyata kedua buku inilah yang sangat berjasa (sebagai perantara dari Allah) membuat segala sesuatunya menjadi mudah. Membaca buku ini saya jadi menyadari akan kekeliruan saya dan istri selama ini. bahwa kami ternyata sudah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tujuan kami. Kontraproduktif. Padahal kami sudah berkali-kali menyaksikan film THE SECRET, dan membaca bukunya. Kami sudah mempraktikkan buku dan film itu, dan sedikit banyak berhasil untuk urusan tertentu, namun kami tahu bagaimana menerapkannya dengan cara yang benar, yakni yang sesuai dengan hati nurani dan ajaran agama kami, yakni Islam, adalah apa yang dituntunkan dalam buku QUANTUM IKHLAS dan THE SCIENCE AND MIRACLE OF ZONA IKHLAS. Ketika saya bisa mengikhlaskan semuanya, mulai mengikhlaskan istri dengan segala sifat yang dimilikinya, juga pikiran dan emosionalnya yang tidak pernah nyambung dengan saya, mertua yang sangat kontra dengan saya, juga kondisi yang menjerat kami, ternyata membuat satu-persatu persoalan terurai dengan sendirinya. Bukan saya yang menyelesaikan tetapi Allah.
Salah satu kutipan ayat alquran yang jadi pedoman saya adalah Surat At Thalaq ayat 2-4 yang berbunyi: wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhrajan wa yarzuquhu min haitsu laa yahtasibu. Wa man yatawakkal ‘ala Allahi fahua hasbuhu. Inna Allaha baalighu amrih. Qad ja’ala Allahu likulli syai-in qadran” (dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberinya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang berpasrah diri kepada Allah, maka Allah yang akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah menjalankan urusannya. Allah benar-benar berkuasa atas segala sesuatu).
Ayat ini bukan hanya saya temukan saat membaca QUANTUM IKHLAS, tetapi saya dengarkan juga dari Ust. Yusuf Mansur dalam pengajian Kun Fa Yakun-nya. Saya betul-betul tersadarkan dengan ayat itu. Sekaligus ia membelalakkan pikiran saya bahwa segala sesuatu di dunia ini tak lepas dari campur tangan Allah. Allah lah yang menentukan segala-galanya. Memang, manusia punya kehendak bebas, tetapi Allahlah yang akhirnya memutuskan. Maka benar apa kata pepatah: MANUSIA MERENCANAKAN, TUHAN YANG MENENTUKAN. Artinya, manusia memang wajib berencana, merancang sendiri hidup dan masa depannya, tetapi akhirnya Tuhanlah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.
Jadi kita sesungguhnya tak perlu mengeluh dengan semua yang terjadi pada kita, terutama pada apa yang tidak kita inginkan, karena Tuhan sudah berkehendak itu terjadi. Artinya, Ia mengizinkan hal itu terjadi. Berarti kita harus ihklas menerimanya, karena baik atau buruk yang terjadi pada kita pasti ada hikmahnya. Ini bukan hiburan retorik, tapi memang demikian jika kita bisa melihat dan membaca dengan jernih, bukan apa yang hanya tampak, tetapi juga apa yang tidak tampak dengan memakai mata hati atau mata batin yang lebih murni. Saya ingat firman Allah: wama ashaba min musiibatin illa biidhnillah (dan tidak ada satupun musibah yang menimpa kecuali atas izin Allah). Kalau Allah menimpakan musibah itu bukan berarti Allah berlaku buruk atau tidak sayang pada kita, tetapi sesungguhnya Allah ingin mendidik dan mendewasakan kita sehingga kita menjadi manusia yang lebih matang. Justru itulah nilai kehormatan kita sebagai manusia, yaitu selalu dalam proses menjadi (transformasi tiada akhir).
Pengalaman saya pribadi mengajarkan bahwa terkadang (atau seringkali) apa yang kita minta kepada Allah tidak kita dapatkan, bahkan kita mendapat kebalikannya. Misalkan kita meminta kelapangan rizki justru kita mendapatkan kesempitan. Kita meminta kekayaan justru mendapat kemiskinan. Kita minta kebaikan justru kita mendapat keburukan. Kita meinta kehormatan justru kita mendapat kenistaan. Tetapi sesungguhnya bukan itu yang sedang terjadi. Saya belajar dari perjalanan hidup saya, saat saya mendapatkan yang sebaliknya dari yang saya minta ternyata itu cara Allah membawa saya pada apa yang sesungguhnya saya minta.
Sederhananya saya ibaratkan seperti panah. Kita adalah anak panah yang kemudian dilentingkan jauh ke depan atau ke atas. Sebelum dilentingkan kita ditarik ke belakang. Semakin ke belakang kita ditarik, semakin kencang dan jauh pula kita melenting. Itulah gambaran doa yang kita panjatkan kepada Allah. Kita adalah anak panah. Kita ingin berada di masa depan yang kita inginkan, lalu kita minta kepada Allah. Tetapi Allah malah membuat kita menjadi mundur, ditekan, semakin ke belakang, semakin sakit, tetapi itu justru cara Allah membuat kita jauh melesat ke masa depan yang kita inginkan. Itulah rahasianya. Betapa hebat cara Allah.
Jadi jika saat ini hidup kita sedang mundur, sedang terhempas, sedang tertekan, sedang sakit, sedang ada di titik nadir, maka percayalah bahwa sebentar lagi kita akan melenting tinggi, jauh ke sesuatu yang kita harapkan, bahkan mungkin lebih baik dari yang kita targetkan. Percayalah Allah Maha Baik, Maha Bijaksana, dan Maha Mengejudkan. Percayalah saja padaNya.
Kembali ke hidup saya saat ini, saya dulu membayangkan dan memohon kepada Allah, juga mengafirmasi dalam pikiran dan perkataan bahwa saya adalah magnet uang. Uang datang dengan sendirinya, dengan mudah dan terus menerus. Ternyata saya sekarang mengalaminya. Saya mengalami perubahan kehidupan yang luar biasa berbeda dengan sebelumnya alias kebalikan dari sebelumnya. Kalau dulu untuk makan saja sulit, sekarang malah lebih dari cukup. Kalau dulu lebih sering kekurangan uang, sekarang selalu cukup (begitu butuh langsung datang dengan sendirinya), kalau dulu mau membeli kebutuhan yang mendesak saja nggak bisa, sekarang bisa terpenuhi. Saya merasa Allah benar-benar mencukupi saya. Ia belum memberikan lebih, tetapi cukup sesuai kebutuhan. Saya semakin percaya bahwa ini hanyalah awal dari segalanya. Awal dari kemudahan-kemudahan, kelimpahan-kelimpahan, keberkahan-keberkahan, dan kemulyaan-kemulyaan yang akan terus berdatangan dan lebih banyak untuk saya sekeluarga. Saya sangat percaya itu.
Di saat seperti inilah sekaligus Allah telah memberikan pengalaman kebebasan (freedom) sebagaimana saya inginkan dan saya angankan selama ini. Tetapi Allah memberikan kebebasan itu dengan cara dan konsep yang berbeda. Dulu yang saya bayangkan (dan diajarkan kepada saya) tentang kebebasan adalah uang yang banyak yang tiada habisnya, kekayaan yang melimpah, waktu yang lebih banyak, bisa ke mana saja kapan saja bersama siapa saja tanpa ada yang kurang atau membatasi. Pokoknya hidup dengan kelimpahan. Dan saya membayangkan betapa bahagianya ada dalam situasi seperti itu, yakni bebas financial.
Tapi ternyata Allah memberikan pengalaman kbebasan itu berbeda sekarang. Saya sudah merasakan kebahagiaan yang saya idam-idamkan itu, yaitu saya merasa hidup saya betul-betul bebas sekarang (dan ini memang faktanya); saya tidak terikat dengan siapapun, saya bebas melakukan apapun, kebutuhan rumah tangga tercukupi (tidak kekurangan uang), dan apapun yang saya inginkan saya tinggal memintanya (kepada Allah) dan insyaallah pasti tercukupi. Saya merasa hidup saya sudah ada yang menaggung. Saya tidak perlu bekerja terlalu keras. Hanya sekedarnya saja jika saya ingin. Saya tidak perlu mengejar uang. Uang yang datang sendiri kepada saya. Saya betul-betul merasakan dan mengalami situasi itu.
Jangan tanya aset kepada saya, karena aset saya bukan materi, tapi pikiran dan hati. Keduanya bisa menghasilkan papaun dan berapapun yang saya inginkan. Saya tinggal menginginkannya. Dan kalau boleh jujur sampai sekarang saya belum menginginkan uang milyaran rupiah karena saya belum menemukan alasan mengapa saya butuh itu dan untuk apa. Saya belum punya pikiran dan hasrat itu. Jadi saya belum memintanya kepada Allah. Padahal Allah sudah memberikan ide kepada saya bagaimana menghasilkan uang 15 milyar hanya dari sebuah buku yang bahkan saat ini sudah siap cetak. Ide itu sudah sangat matang dan tinggal menukarnya saja dengan uang 15 milyar. Tapi sampai sekarang saya masih belum tergerak untuk melakukannya (saya bahkan sudah mengabaikan penerbit besar yang punya jaringan besar dan tersebar di seluruh Indonesia yang menawarkan untuk mencetak naskah buku itu). Saya sendiri tidak tahu kenapa. Yang jelas saya belum menginginkannya, meskipun uang itu sudah ada di depan mata. Tapi itulah kebebasan saya. Saya bebas mengambil uang itu atau tidak. Dan kalau boleh jujur lagi saya masih bingung buat apa uang sebesar itu. Mungkin nanti kalau saya sudah menemukan ide uang itu akan saya gunakan untuk apa maka saya akan mengambilnya.
Ok, kita kembali ke inti pembahasan tulisan ini. kembali ke pokok bahasan, yaitu tentang ilmu vs harta. Intinya, saya menyimpulkan, bahwa ilmu itu jauh lebih berarti dan lebih penting daripada harta, karena dengan ilmu itu kita bisa mendapatkan harta berapapun yang kita inginkan. Allah itu Maha Tidak Terbatas. Dan Allah menyukai orang-orang yang berilmu dan selalu belajar. Maka Allah sudah menyiapkan untuk orang-orang itu kelimpahan yang tidak terbatas.
Jadi, amalkan ilmu maka uang dan kekayaan akan menghampirimu! Dijamin!
PENAJAM PASER UTARA,
20 NOVEMBER 2012