Jumat, 25 Maret 2011

Rendah Hati Vs Rendah Diri

Salah satu sifat terbaik dan sangat mulia yang bisa dimiliki manusia adalah sifat rendah hati. Rendah hati kalau dalam istilah bahasa Arab biasanya sering disebut tawadhu. Rendah hati adalah menerima kebenaran dengan tulus dan lapang dada dari manapun atau dari siapapun kebenaran itu datang.

Pengertian ini tampaknya sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat luas. Dan justru karena kesederhanaannya, hal ini seringkali sulit dilakukan. Mari kita kupas sedikit soal ini.

Kadang-kadang, kita menilai diri kita terlalu tinggi sehingga kita (dalam hati) merasa sudah cukup pintar, sudah banyak tahu, dan sudah hebat, sehingga apapun yang baik dan benar yang datang dari orang lain seringkali enggan kita dengar atau kita terima dengan senang hati dan lapang dada. Apalagi jika hal itu datang dari orang yang, misalkan, lebih rendah status sosialnya daripada kita, tidak lebih berpendidikan atau terdidik daripada kita, usianya di bawah kita, kenyataan hidupnya lebih susah daripada kita, atau ia hanya orang gila atau masih anak-anak, atau dia adalah orang yang tidak kita sukai. Seringkali kita merasa seakan-akan (seperti berujar dalam hati:) “aku sudah tahu,” “gayamu!” “siapa sih lo??” “kelincipen (Jawa: terlalu sok).”

Hebatnya, gumam atau rasa itu tidak serta merta kita tunjukkan atau verbalkan. Mungkin itu hanya ada dalam hati, sedang bibir kita tersenyum seakan menerima. Itu berarti kita tidak rendah hati. Kita sombong.

Lawan dari rendah hati adalah sombong. Sombong artinya tak mau menerima kebenaran atau kebaikan dari siapapun atau apapun yang datang dari luar dirinya. Sombong bukanlah ekspresi. Ia ada di dalam hati. Namun, ia bisa diekspresikan. Sombong adalah sifat yang sangat berbahaya. Saya ingat seorang teman punya istilah yang tepat: “Jika kau merasa matang, maka sebentar lagi kau akan membusuk.”
Begitulah memang. Buah yang sudah matang, apalagi sangat matang, maka apa yang akan terjadi kemudian? Bukan lagi lambat laun, tetapi segera ia akan membusuk. Seperti itu pula jika kita sudah merasa hebat, merasa pintar, merasa tinggi, maka sebenarnya kita sangat dekat dengan kehancuran.

Sekarang pun Anda bisa menguji diri sendiri. Anda membaca tulisan ini. Rasakan, reaksi apa yang ada dalam hati Anda. Jika Anda diam-diam merasa dan menganggap yang menulis ini sok pintar, sok baik, sok bijaksana, karena mungkin Anda mengenal penulisnya dan tahu seperti apa kehidupan bahkan kepribadiannya yang mungkin Anda nilai tidak sebanding dengan apa yang ditulisnya, berarti Anda masih sombong. Anda merasa digurui. Tetapi, jika Anda membaca tulisan ini dan menangkap apa yang benar dan baik yang kemudian Anda terima dengan lapang dada dan (kalau perlu) dengan memberi sedikit penghargaan pada penulisnya (seperti berkata dalam hati: “ya..ya.. benar juga”), maka Anda sudah memiliki sifat rendah hati ini. Dan itu berarti Anda adalah orang baik dan akan menjadi orang yang mulia. Saya berdoa semoga hidup Anda diberi kebahagiaan dan kemudahan. Semoga Anda dimuliakan oleh Tuhan.

Sekali lagi, sifat rendah hati adalah sifat yang baik. Dan sifat ini merupakan bagian dari sifat orang-orang yang bertakwa. Saya akan mengutip Zainudin MZ. Takwa sering diartikan menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya, tetapi sesungguhnya takwa memiliki dimensi makna yang lebih luas daripada itu. Menurut yang saya dengar dari Zainudin MZ, dai kondang dari Betawi yang dapat sebutan Dai Sejuta Umat, dan juga dari kiyai saya waktu saya ngaji dulu, takwa adalah perpaduan dari empat sifat mulia. Jika seseorang memiliki sifat-sifat ini, maka ia tergolong orang-orang yang bertakwa dan dijamin kemuliaannya di sisi Allah. Apa empat sifat itu?

1.Tawadhu (rendah hati), artinya mau menerima kebenaran dan kebaikan, dari manapun datangnya kebaikan dan kebenaran itu.

2. Qana’ah (ikhlas), artinya mau dengan lapang dada menerima apapun yang diberikan Allah padanya, baik atau buruk, enak atau tidak enak. Dengan kata lain: selalu bersyukur dan positive thinking sama Allah.

3. Wara’ (hati-hati), artinya betul-betul menjaga diri dari apapun yang tidak baik, entah itu rezeki yang tidak halal atau subhat, atau menjaga tingkah laku dan ucapan. Dengan kata lain, menjaga sikap, mulai dari pikiran, hati, hingga perbuatan.

4. Yakin, artinya segala sesuatu disikapi dengan iman. Betul-betul percaya sama Allah. Allah-lah penolongnya. Allah-lah yang selalu bersamanya.

Keempat sifat ini tampaknya sangat sederhana dan agak remeh, tapi keempat sifat itulah yang akan menjadi sumber kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Maaf, saya sedang tidak berkhotbah atau menggurui Anda. Saya hanya ingin berbagi kebaikan yang mungkin sebagian besar dari Anda sudah tahu.

Rendah Hati Vs Rendah Diri

Mari kita lanjutkan. Orang seringkali tidak bisa membedakan antara rendah hati dan rendah diri. Keduanya sangat berbeda. Rendah hati berkonotasi positif, sementara rendah diri berkonotasi negatif. Rendah diri adalah bagian dari sifat jelek yang mampu membunuh karakter sendiri. Sekaligus, sifat itu menghilangkan penghargaan terhadap diri sendiri dan itu juga berarti kita meremehkan ciptaan Allah.

Rendah diri itu menganggap diri sendiri tak mampu, kurang baik, tak layak, tak berarti, kecil, inferior, rendah. Ini sifat yang mengerdilkan dan membunuh. Biasanya orang yang rendah diri tak punya kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia tak punya penghargaan pada diri sendiri. Ia lupa bahwa ia juga punya potensi. Ia juga punya kelebihan. Itulah mengapa sifat ini sangat jelek. Dan sifat inilah yang mempengaruhi kegagalan manusia.

Meski demikian, kadang rasa rendah diri ini menyeruak sewaktu-waktu, terutama saat kita dihadapkan pada hal yang lebih tinggi daripada kita. Namun kabar baiknya, rendah diri ini, sebagaimana juga sifat sombong, bisa dilawan. Sementara sifat rendah hati bisa dilatih jika kita mau. Artinya, semua masih terbuka bagi manusia. Manusia selalu memiliki kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Tergantung manusia sendiri mau menggunakan kesempatan itu atau tidak.

Baik, kawan. Saya kira cukup itu sajalah obrolan kita soal ini. Mari kita berkaca dan bercermin dengan naluri dan hati nurani kita sendiri. Mari kita sama-sama berlatih untuk memiliki sifat mulia ini. Saya ingin membagikan doa yang diajarkan ustad saya (H. Hammam Munaji dari Talun Bojonegoro) waktu masih sekolah di tsanawiyah dulu:

“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang sabar. Jadikanlah aku orang yang pandai bersyukur. Jadikanlah aku orang yang besar di mata orang lain, namun kecil di mataku sendiri.” Amiiiiiin.

Malang, Minggu, 20 Maret 2011

Dua Orang Tua Renta di Pinggir Jalan

Pagi itu saya terburu-buru karena agak telat mengantarkan anak saya sekolah. Semalam saya ngelembur mengedit buku dan paginya telat bangun. Saya tahu pagi adalah jam sibuk. Jalanan seperti penuh. Mobil dan motor berseliweran. Untungnya, ini Malang, bukan Jakarta atau Surabaya. Saya tak bisa membayangkan jika berada di sana.

Di antara hiruk pikuk lalu lintas, kemacetan, asap, dan peluit polisi, mata saya tiba-tiba menyangkut pada pemandangan yang luar biasa. Di sudut perempatan dekat lampu merah saya melihat sepasang kakek-nenek saling memapah berjalan tertatih-tatih menyusuri trotoar. Entah mereka mau menuju ke mana. Karena saya sedang terburu-buru, maka tak sempat lagi memeperhatikan langkah mereka yang terseok tertatih-tatih itu.

Dalam pandangan sekilas itu sang nenek berusaha menahan badan sang kakek dengan merangkulkan lengan keriputnya di atas pundak sang kakek. Sementara tangan kanannya berusaha menahan badan kakek agar tidak terhuyung dan jatuh. Mereka seakan sedang berusaha keras agar tetap bisa berjalan menuju arah entah ke mana.

Tiba-tiba saya lupa bahwa waktu sedang memburu. Mungkin teman-teman anakku sudah pada berdoa, atau bahkan sudah masuk kelas. Pikiranku tiba-tiba sibuk sendiri. Ada yang menggangguku. Semacam empati yang entah berantah tidak tahu datangnya dari mana. Mungkin sisi nurani dan kemanusiaan yang menyeruak. Siapa mereka? Di mana rumahnya? Apa mereka punya rumah? Di mana anak-anak mereka yang diperjuangkan mati-matian agar hidupnya tidak menderita. Mengapa mereka (anak-anaknya) membiarkan sepasang tua renta yang begitu rapuh berada di jalanan di antara gerombolan pengemis lain. Tegakah anak-anak mereka melihat orang tuanya seperti itu?

Kilatan-kilatan pertanyaan itulah yang menggangguku. Sungguh, saya seperti merasakan kepedihan yang dipendam dalam hati si tua renta itu. Betapa sakitnya dalam usia serenta itu masih harus berjuang untuk bertahan hidup. Seakan-akan tak memiliki siapa-siapa lagi untuk dijadikan tumpuan.

Mungkin anak-anaknya kini telah mapan dan sangat sibuk dengan pekerjaan dan rumah tangga masing-masing, sehingga tak kan lagi sempat memperhatikan dan memberi kasih sayang orang tuanya. Karena mungkin juga mereka kini telah menjadi orang tua yang harus memperhatikan anaknya. Mereka terlalu cinta pada anaknya. Mereka betul-betul merasakan arti seorang anak yang tak akan pernah lepas sedikitpun dari kasih sayang yang tulus. Mereka betul-betul merasakan arti seorang anak dalam hidupnya, yang bahkan siap mengorbankan apa saja demi buah hatinya itu.

Namun sayang, mereka tidak lagi sadar bahwa ada orang yang telah lebih dulu menjadi seperti dirinya saat ini sebagi orang tua yang selalu tulus dan siap berkorban apa saja demi anaknya, yaitu kedua orang tuanya sendiri. Mereka mungkin tak lagi merasa betapa kasih sayang dan cinta itu masih utuh. Terbukti dengan usia yang setua dan serenta itu mereka tak ingin merepotkan dan mengganggu rumah tangga anaknya. Mereka tak ingin membebani anaknya. Mereka akan berjuang untuk bertahan hidup sendiri hingga mati tanpa membuat terganggu anak-anaknya yang kini sedang membangun kebahagiaan dalam rumah tangganya.

Atau mungkin juga, anak-anaknya sedang mengalami masalah ekonomi yang serius. Kalaupun tidak serius atau genting, mungkin masih dalam situasi kekurangan, sehingga dua orang renta itu tak ingin beban anaknya semakin berat dengan menanggung hidup mereka. Mungkin juga seperti itu.

Atau mungkin juga mereka berdua tak lagi memiliki siapa-siapa. Bahkan seorang anak.
Semua itu hanya kemungkinan. Namun semua kemungkinan itu telah menjejali otak dan perasaan saya, dan semua berbalut pedih. Dalam hati saya berdoa: Ya Allah, izinkan hamba untuk cukup dan bahagia. Dan izinkan hamba untuk menjamin dan membahagiakan orang tua kami, seperti mereka telah berusaha untuk menjamin dan membahagiakan kami. Ya Allah, izinkan saya untuk terus memiliki kasih sayang dan cinta pada orang tua kami, dalam kondisi apapun kami berada. Dan tetap limpahkanlah pertolonganmu agar kami bisa terus berbakti kepada mereka. Kami tidak ingin kedua orang tua kami seperti sepasang tua renta di jalan itu. Kami ingin mereka semakin terhormat di usia mereka yang akan terus menjadi tua.

Tuhan, izinkan kami bahagia dengan keinginan itu semua. Terimakasih, Tuhan, Kau telah mengingatkan dan menyadarkanku dengan melihat sepasang orang tua renta di pinggir jalan itu. Terimakasih sekali lagi.

Tak terasa air mataku berlinang. Dan di saat saya mulai sadar, ternyata saya sudah ada di pintu gerbang sekolah anakku di TK Aisyah Cita Insani.

Malang, Minggu 20 Maret 2011 pukul 02.00 WIB

Kamis, 24 Maret 2011

Lakukan Hal Berbeda, Dapatkan Hasil Berbeda

"Hanya orang bodoh dan gila yang menginginkan hasil berbeda, namun melakukan hal yang sama setiap hari."

Saya dapatkan kutipan ini dari sebuah seminar awal tahun yang diadakan oleh sebuah perusahaan network marketing. Definisi gila, katanya mengutip sebuah buku, adalah mengharapkan hasil yang berbeda, namun melakukan hal yang sama setiap hari.

Ya, memang masuk akal. Contoh sederhananya begini: kalau Anda setiap hari memancing, yang akan Anda dapatkan ya ikan. Nggak mungkin mobil atau pesawat terbang. Lha, kalau Anda mancing di kolam dan mengharapkan dapat pesawat terbang, itu namanya Anda gila. Hahaha.... itu logika kasarnya.

Kalau kita renungkan kata-kata ini maknanya sangat dalam. Kita bisa tafsirkan bermacam-macam. Bisa juga ini merefleksikan pekerjaan kita sehari-hari. Apa yang kita lakukan sehari-hari hasilnya sudah jelas. Kalau kita ingin hasil yang berbeda ya kita patut lakukan hal yang berbeda.

Kalau kita bekerja di kantor dengan rutinitas kerja seperti itu, maka wajar jika gaji kita seputar satu juta, dua juta, lima juta, dan mungkin sampai 10 juta. Kalau kita ingin yang lebih dari itu, maka silakan diukur sendiri kira-kira di kantor Anda gaji paling tinggi berapa. Ya itu yang mungkin akan Anda capai. Itu angka maksimal. Kalau Anda ingin lebih, berarti Anda harus melakukan hal yang lain. Mungkin Anda akan memulai usaha dengan proyeksi income yang Anda tentukan sendiri.

Artinya, harus ada yang lain yang Anda lakukan. Dan itu bukan rutinitas yang selama ini Anda jalani.

Saran saya, jika Anda ingin punya penghasilan yang luar biasa, mulailah berbisnis. Hanya bisnis yang menawarkan penghasilan besar di luar penghasilan pekerja. Namun, jika Anda ingin berpenghasilan besar dan passive income, maka bergabunglah dan kerjakan bisnis jaringan. Itu adalah bisnis cerdas dengan konsep yang sangat sederhana dan modal yang sangat kecil, dan tentunya, risikonya sangat kecil.

Namun demikian, hati-hati memilih bisnis jaringan. Tidak semua perusahaan berpihak pada Anda. Ada yang berkedok MLM tapi sesungguhnya money games. Ada juga skema piramid yang di seluruh dunia dinyatakan ilegal. Dan lain-lain.

Bukalah pikiran dan hati Anda untuk mencoba belajar dan mengenal bisnis ini lebih dekat. Jangan hiraukan informasi yang buruk tentangnya. Dekatilah orang yang sukses menjalankannya dan belajarlah dari dia.

Pertimbangan dasar yang bisa saya berikan dalam memilih perusahaan:
1. Perusahaannya harus terdaftar di Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI)
2. Harus punya kantor sendiri (tidak ngontrak)
3. Produknya bagus dan teruji. Lebih baik produk kesehatan, karena sampai kapanpun itu dibutuhkan.
4. Marketing Plannya proporsional, artinya siapa yang kerja lebih yang akan dapat lebih (tidak hanya menguntungkan yang atas)
5. Punya support system yang bagus (canggih dan teruji menghasilkan banyak orang sukses)
5. Bersertifikat syariah dari Majelus Ulama Indonesia (MUI)

Bisnis jaringan telah terbukti menghasilkan banyak orang sukses dengan kepribadian yang luar biasa (baiknya). Sekarang giliran Anda mengambil peluang ini. Mulailah melakukan hal yang berbeda saat ini, agar Anda mendapatkan hasil yang berbeda nanti.

Terakhir, saya akan mengutip kata-kata dari seorang miliarder bisnis jaringan: "Lakukan apa yang tidak dilakukan rata-rata orang hari ini, niscaya Anda akan mendapatkan apa yang tidak didapatkan oleh rata-rata orang suatu saat nanti."

Sabtu, 19 Maret 2011

Manusia dan Keluh Kesah

Siang tadi waktu mengikuti shalat Jumat, saya mendengarkan dengan baik isi khotbah yang disampaikan khatib. Dia mengutip ayat Alquran yang menyebutkan bahwa manusia itu diciptakan dengan penuh keluh kesah. Jika ditimpa keburukan maka ia akan mengeluh dan mengumbarnya pada banyak orang. Sedang jika ia mendapat kebaikan cenderung menyimpannya sendiri dan enggan untuk berbagi. Kecuali orang-orang yang shalat, yang benar-benar sungguh dalam shalatnya.

Saya lupa itu surat apa dalam Alquran. Yang pasti pesannya jelas: yang namanya manusi sudah dari sononya memang penuh keluh kesah. Dan ini sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di lingkungan kita tentu banyak yang mengalami hal ini. Bahkan saya yakin kita sendiri punya kecenderungan itu. Seakan-akan sudah selayaknya keburukan, kekurangan, ketidaknyamanan kita ingin bagikan kepada orang lain biar mereka tahu bahwa kita kekurangan, bahwa kita sedang mengalami hal yang tidak baik.

Namun sebaliknya, jika kita mendapat sesuatu yang baik, atau semisal mendapat rezeki besar, maka kita cenderung diam. Kadang karena takut orang lain menginginkannya dari kita.

Setidaknya, itulah tafsir yang disampaikan sang khatib siang tadi. Saya jadi merenung: berarti wajar jika manusia selalu sambat (mengeluh). Namun ada sedikit orang yang tidak akan mengalami atau melawan kecenderungan alamiah ini, yaitu mereka yang memang benar-benar bersungguh-sungguh dalam ibadahnya. Artinya, mereka itulah yang merupakan manusi bijak dan bisa menguasai dirinya untuk tidak mengumbar kejelekan, keburukan, atau ketidakbaikan kondisi yang dialaminya. Dan mereka adalah orang pilihan. Mereka sadar dan ikhlas mengalami apapun yang harus dialami. Mereka tahu dan menyadari Tuhan sedang menetapkan rencana yang lebih baik setelah ini. Ia ikhlas… ia percaya.

Kawan, betapa sering kita melihat dan menyaksikan, bahkan mengalami keluh kesah itu keluar dari mulut siapa saja di sekitar kita. Seakan-akan hidup tak ada sempurna-sempurnanya. Lalu kapan kita bersyukur? Kapan kita berterimakasih atas hal-hal kecil yang telah dianugerahkan Tuhan pada kita yang sesungguhnya punya makna yang sangat besar? Kapan kita mau mensyukuri segala nikmatnya? Saya yakin, kawan, jika kita mau bersyukur, hidup ini akan terasa lebih ringan. Semua akan menjadi penuh hikmat dan nikmat.

Saya pernah dengar satu kisah: diceritakan, di sebuah pulau yang terpencil ada seorang hamba Allah yang menyendiri dan tinggal di sana. Ia tidak punya aktifitas lain selain ibadah dan bersujud kepada Allah. Bahkan, saking salehnya, ia tak pernah mencari makan. Makanan datang dengan sendirinya. Allah memberinya rezeki dengan mengutus burung-burung dan makhluk lainnya untuk mengmberikan makanan untuk dia, karena dia adalah hamba yang disayangi Allah. Karena kemuliaannya itulah ia yakin akan mendapat tempat terhormat di surga. Ia merasa sangat berhak atas surga yang dijanjikan karena ibadahnya yang melebihi orang lain.

Namun, apa yang terjadi, kawan. Ia belum dimasukkan surga. Karena belum masuk surga, ia menuntut haknya kepada Allah. “Wahai Allah Tuhanku, mengapa hamba belum masuk surga, padahal hamba selama hidup sudah mengabdi penuh kepadaMu. Bukankah hamba berhak atas surgaMu?”

Lalu Allah bertanya kepada sang hamba: “Mengapa engkau merasa berhak atas surga? Apakah karena ibadahmu kepadaku yang melebihi orang lain? Kalau itu alasanmu, mari kita timbang seberapa besar amal ibadahmu dibandingkan nikmat yang telah aku anugerahkan kepadamu.”

Lalu ditimbanglah amal ibadah sang hamba itu dengan indera mata sebagai anak timbangannya. Apa yang terjadi? Ternyata, indera mata yang diberikan Allah lebih berat dari amal ibadah yang telah dilalukannya seumur hidupnya. Itu baru nikmat berupa mata. Belum yang lain; telinga, mulut, hidung, tangan, kaki, napas, dan lain-lain. Ternyata nikmat Allah yang diberikan kepada manusia jauh lebih besar dibandingkan amal ibadah yang mungkin bisa dilakukan manusia. Artinya apa? Apa yang telah diberikan Allah pada kita tidak akan pernah sebanding dengan apapun yang kita lakukan untukNya.

Akhirnya, Allah memberinya pelajaran: “Jika hambaku masuk surga itu bukan karena ibadahnya, itu karena kasih sayangku.” Subhanallah…. Allah Maha Besar. Allah Maha Bijaksana.

Saudaraku….

Dengan pelajaran ini, marilah kita bersama-sama memperbaiki diri. Marilah kita awali hari-hari kita dengan syukur kepadaNya. Mari kita hiasi hati kita dengan rasa terimakasih yang tulus padaNya. Sungguh kenikmatannya tak bisa dinilai dengan apapun kecuali dzikir Alhamdulillah dari mulut dan hati kita.

Malang, Jumat, 18 Maret 2011

Takdir dalam Genggaman

Apa itu takdir? Takdir adalah apa yang sudah terjadi. Yang belum terjadi adalah misteri.
Begitulah hidup. Masa-masa yang telah kita lampaui adalah takdir yang tidak akan kembali, yang hanya akan jadi kenangan, atau malah telah kita lupakan. Sementara masa depan adalah misteri yang masih terbuka lebar. Kadang terlihat kabur, kadang tampak begitu jelas. Namun satu hal yang pasti: misteri itu akan menjadi takdir seperti apa tergantung pada keputusan kita sendiri. Lalu di mana peran Tuhan? Tuhan adalah penentu akhir apa yang terbaik untuk kita. Dan Dia Maha Tahu atas apa yang baik dan buruk bagi kita.

Mari kita perjelas ini dengan satu gambaran yang lebih mudah. Coba Anda buka kedua telapak tangan Anda dan perhatikanlah. Di sana Anda bisa lihat garis-garis telapak tangan yang membentuk angka 18 dan 81 dalam bahasa Arab. Itulah garis hidup kita. Itulah rancangan takdir kita. Semua sudah tergariskan di situ; jodoh, rezeki, mati, dan lain-lain. Sekarang coba genggamkan telapak tangan Anda dan lihatlah: garis-garis angka itu hampir semua tergenggam. Hanya sedikit yang tidak. Itulah garis yang ada dalam kuasa Tuhan. Sementara sebagian garis yang dapat kita genggam itu adalah kekuasaan kita sendiri. Artinya apa? Kita memiliki hak yang besar untuk menentukan hidup dan masa depan kita sendiri. Kita bisa dan boleh memilih siapa jodoh kita. Kita bisa dan boleh memilih jalan rezeki kita. Kita boleh dan bisa memilih akan mati seperti apa. Kita diberi kebebasan oleh Tuhan menentukan itu semua. Selebihnya adalah Tuhan yang memberi keputusan akhir apakah akan sesuai dengan yang kita inginkan atau tidak. Apapun yang terjadi kemudian adalah yang terbaik. Ingat satu hal: Tuhan tidak memberi yang kita inginkan. Ia memberi yang kita butuhkan.

Nah, bicara soal keinginan dan kebutuhan tentu tidak bisa lepas dari sifat alamiah manusia, karena secara lahiriah dan alamiah kedua hal ini sangat inheren dalam diri manusia. Ia membutuhkan sesuatu dan sekaligus menginginkan sesuatu. Namun demikian, kedua hal ini bisa kontradiktif dan juga bisa beriringan. Bisa jadi kita menginginkan sesuatu dan memang membutuhkannya. Kadang pula kita menginginkan sesuatu meski sebenarnya kita tidak membutuhkannya. Atau sebaliknya, kita membutuhkan sesuatu tetapi kita tidak menginginkannya. Bisa juga kita membutuhkan sesuatu dan mau tidak mau kita harus menginginkannya. Bingung ya? Nggak apa-apa, bingung aja. Saya juga bingung kok. Hahaha….

Intinya, itulah sifat dasar yang dimiliki manusia. Namun yang ingin saya tekankan di sini adalah kita harus menerima apapun yang terjadi pada kita sebagai bagian dari proses hidup. Mengapa proses hidup? Karena kita adalah makhluk yang dinamis. Makhluk yang selalu dalam proses menjadi, sehingga apapun yang terjadi pada kita bukanlah akhir dari segalanya. Semua adalah situasi yang belum berhenti, hingga kemudian kita mati. Saat itulah proses hidup berhenti. Siklus proses mati.

Terus maksudnya apa tulisan ini? Kok tambah mbulet? Maksudnya begini lho Bro… kadang hidup tidak berjalan sebagaimana yang kita inginkan. Kadang ia seperti punya arah sendiri yang mau tidak mau harus kita ikuti. Itu berarti apa yang kita inginkan adalah bukan yang kita butuhkan saat itu. Dan yang tahu itu adalah Tuhan. Mungkin suatu saat kita menginginkan kebaikan, tetapi justru yang datang adalah keburukan. Jika kita mau belajar dan mengambil hikmah, mungkin Tuhan sedang menunjukkan pada kita bahwa kebaikan yang kita idamkan bukanlah kebaikan yang tepat untuk kita. Ada kebaikan yang lebih baik dari itu, namun untuk melihat dan mendapatkan itu dibutuhkan kondisi kita harus mengalami keburukan terlebih dulu. Tuhan seperti sedang ingin mematangkan proses kita. Tuhan seperti sedang mendewasakan kita.

Saya akan mengutip SMS dari seorang teman:

Saat kita memohon kekuatan,
Tuhan memberi kita banyak kesulitan untuk menjadi kuat
Saat kita memohon hikmat,
Tuhan memberi kita persoalan untuk menjadi bijak
Saat kita meminta kekayaan,
Tuhan memberi kita kemampuan untuk bekerja
Kita tidak menerima dari Tuhan apa yang kita inginkan
Tetapi kita menerima sesuatu menurut kehendaknya
Mari kita syukuri apa yang telah kita dapat hari ini.

Lalu apa hubungannya dengan takdir dalam genggaman?

Baik atau buruk Tuhan lebih tahu daripada kita. Namun kita sebagai manusia tentu punya standar kebaikan dan keburukan berdasarkan rasionalitas universal manusia. Di balik itu semua Tuhan yang Maha Tahu. Kita tetap bisa menginginkan dan bahkan merencanakan apa yang baik dan tepat untuk kita berdasarkan pertimbangan alamiah kita dan standar kebaikan universal kita sebagai manusia. Kalau itu tepat, tentu Tuhan bisa menyetujui dan merestuinya. Tuhan Maha Baik dan Maha Bijaksana. Dan hal terbaik yang harus kita lakukan adalah berprasangka yang baik terhadapNya.

Jadi, kita boleh menginginkan yang terbaik, bahkan dengan sangat spesifik. Kita wajib bekerja keras untuk memperjuangkan keinginan dan harapan kita. Namun di atas semua itu, Tuhan memiliki cara sendiri untuk mewujudkannya bagi kita.

Hal lain yang ingin saya sampaikan di sini, kalau garis takdir terbesar ada dalam genggaman kita, dan Tuhan hanya mengambil peran sangat sedikit, mengapa kita rela menyerahkan nasib kita pada orang lain. Mengapa kita membiarkan orang lain mengendalikan kita? Menentukan nasib kita? Saya tidak akan memperjelas hal ini. Silakan Anda tafsirkan dan perjelas sendiri.

Satu hal lagi (dan saya janji ini yang terakhir) yang ingin saya tekankan pada Anda; kalau Anda adalah penentu hidup Anda, mengapa Anda tidak mulai membuat rencana besar untuk kebebasan Anda sendiri? Membebaskan diri Anda dari diatur orang lain, diperintah orang lain, ditekan orang lain, membiarkan waktu Anda dirampas, tenaga Anda diperas?

Kawan, bebaskan diri Anda. Mulailah menjadi bos bagi diri Anda sendiri. Ada banyak jalan di luar sana menunggu Anda menjadi manusia bebas.

Go Freedom! (Maaf jika bagian terakhir ini agak provokatif. Maaf… Bener-bener saya minta maaf).


Malang, Jumat, 18 Maret 2011

Selasa, 15 Maret 2011

Membaca dan Mengubah Nasib

Tahukah Anda bahwa nasib itu bisa dibaca dan juga bisa diubah? Kalau belum bacalah artikel ini.

Sebelumnya izinkan saya bertanya kepada Anda kira-kira nasib Anda ke depan (3-5 tahun lagi) akan seperti apa? Anda akan memiliki kehidupan seperti apa? Bisakah Anda membayangkannya secara nyata? Saya yakin sebagian besar dari Anda akan menjawab: entahlah, semua itu misteri.

Anda tidak salah kawan, masa depan itu misteri. Namun, kabar baiknya, masa depan itu bisa kita rencanakan. Takdir itu bisa kita rangkai sebelum benar-benar menjadi takdir. Begitu juga dengan nasib.

Ada satu cara untuk membaca nasib kita di masa mendatang, yaitu dengan cara melihat orang-orang yang berada di tempat yang sama dengan kita, dan melakukan sesuatu yang sama dengan kita namun mereka ada lebih dulu dari kita. Kita lihat mereka; bagaimana kondisi mereka, kehidupan mereka, penghidupan mereka, maka seperti itulah kita akan mengalami.

Contoh paling sederhananya begini: jika Anda bekerja di sebuah perusahaan sebagai karyawan kecil, maka lihatlah orang yang lebih dulu bekerja di sana sebelum Anda yang karirnya lebih bagus, maka seperti itulah nanti Anda akan menjadi. Sekarang, lihat posisi paling tinggi di perusahaan Anda, misalkan manajer atau direktur, maka seperti itulah Anda akan menjadi nantinya. Artinya, itu adalah karir maksimal yang mungkin akan bisa Anda raih di sana dengan berbagai fasilitas dan gajinya.

Pertanyaannya adalah mungkinkah Anda akan mencapai posisi tertinggi itu? Kalau mungkin, berapa lama Anda bisa mencapainya? Dan apakah Anda akan mendapat dukungan penuh seluruh perusahaan untuk mencapai tingkatan tertinggi itu?

Kalau saya boleh menjawab, tentu semua itu tidak akan mudah dan nyaris tidak mungkin. Mengapa? Karena kabar buruknya, posisi itu sangat terbatas dan hampir semua orang di perusahaan menginginkan posisi itu. Di situlah akan terjadi yang namanya persaingan, entah sehat ataupun tidak sehat, saling menyikut, menginjak, dan mungkin juga memukul. Saya kira saya tidak perlu memberi contoh nyata dari gambaran persaingan ini. Saya yakin Anda sudah biasa melihat realitas itu ditempat kerja Anda.

Lalu bagaimana cara kita mengubah gambaran nasib kita ke depan?

Satu-satunya jalan adalah kita harus mau keluar dari lingkaran atau kotak yang melingkupi diri kita (tempat berada kita saat ini). Maksud saya bukan berarti Anda harus keluar dari pekerjaan, tetapi lebih ke mencari peluang yang akan membawa Anda ke puncak karir dan kebebasan tanpa halangan dari luar dan dengan mendapatkan dukungan penuh.

Salah satu solusi terbaik yang bisa saya tawarkan adalah bukalah pikiran dan hati Anda, mulailah terlibat di industri network marketing. Lho? Ya, saya serius. Network marketinglah yang akan membawa Anda pada puncak karir dan sekaligus prestasi besar yang bahkan jauh melampaui bayangan Anda dengan kebebasan finansial yang luar biasa.

Apa hubungannya dengan membaca nasib? Begini. Di industri network marketing, atau yang lebih kita kenal dengan Multi Level Marketing (MLM) semua orang punya kesempatan yang sama untuk jadi pemenang. Lebih hebatnya lagi, untuk menjadi pemenang, kita harus menjadikan orang lain sebagai pemenang juga. Untuk menjadi kaya kita harus membuat orang lain menjadi kaya dulu. Artinya, kesuksesan kita dibangun di atas kesuksesan orang lain.

Nah, di network marketing ada karir puncak yang memberikan pensiun sampai tak terbatas. Setiap bulan, selalu ada orang-orang yang mencapai puncak. Umumnya mereka mendapatkan penghasilan yang besar dan mulai menikmati kebebasan finansial. Jika Anda terlibat di sebuah industri network marketing, maka seperti itulah nasib Anda kelak. Jika orang yang terlibat di industri itu sebelum Anda mencapai prestasi yang luar biasa dan menjadi miliarder, maka seperti itulah Anda kelak akan menjadi dan mengalami.

Karena itu, sekarang mulailah membuka diri dan terimalah setiap kesempatan untuk terlibat di industri itu, maka Anda akan mendapatkan kebebasan yang nyaris tidak pernah Anda bayangkan.

Namun demikian, untuk sukses di industri network marketing itu juga butuh keseriusan dan kerja keras. Untuk sukses di manapun butuh kerja keras, namun kerja keras di tempat yang salah sampai matipun Anda tidak akan sukses.

Catatan:
1. Orang sering salah paham bahwa dengan terdaftar menjadi distributor di sebuah perusahaan network marketing maka ia dijamin pasti sukses. Padahal itu salah besar. Kita akan sukses jika kita benar-benar bekerja dan mengikuti sistemnya, juga pembelajarannya (training, modul).
2. Sesungguhnya tidak ada yang gagal di industri ini. Yang ada: Berhenti sebelum garis finish.
3. Jangan dengarkan komentar negatif orang tentang industri ini. Kebanyakan dari mereka tidak mendapat informasi yang benar soal itu. Kalaupun mereka pernah terlibat dan gagal, maka jangan belajar gagal dari mereka. Belajarlah untuk berhasil dari mereka yang berhasil.
4. Pilihlah perusahaan yang tepat, yang jujur, memiliki sistem yang bagus, pendidikan yang bagus (support system), halal produknya, telah mendapat banyak penghargaan, terdaftar di Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI), dan kalau perlu yang memiliki sertifikat syariah dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kalau itu sudah terpenuhi, berarti Anda ada di perusahaan yang tepat.

Baiklah kawan, selamat mencoba dan mengambil keputusan yang tepat. Keputusan Anda hari ini menentukan nasib Anda 3-5 tahun kedepan.

Salam sukses,
AKMAD BUSTANUL ARIF

(Kalau ingin terlibat di industri network marketing dengan perusahaan yang tepat, silakan hubungi saya di 085755088109). Saya ada di perusahaan besar yang sedang mengalami perkembangan pesat bernama K-Link International dan K-Link Nusantara

Senin, 14 Maret 2011

Orang-orang Terbaik dalam Hidup Kita

Mari kita diam sejenak untuk merenung dan merefleksikan satu hal; anugerah terbaik yang diberikan Tuhan pada kita.

Seringkali kita tidak menyadari betapa Tuhan Maha Luar Biasa, Maha Baik Hati. Ia telah memberikan apa yang terbaik buat kita. Baik atau buruk, indah atau tidak, semua hanya masalah penerimaan.

Kadang kita sering mengeluh betapa hidup tidak atau belum berjalan seperti yang kita inginkan. Padahal, kita tidak pernah tahu apakah yang kita inginkan itu yang terbaik buat kita atau malah sebaliknya. Seringkali kita hanya memakai logika dan perasaan subyektifitas kita untuk mengukur kepuasan antara harapan dan kenyataan, antara cita-cita dan realita. Tetapi, terkadang semua itu sia-sia. Seakan-akan hidup berjalan sesuai garisnya sendiri. Hidup punya logikanya sendiri. Tentu ini sebuah keputusasaan.

Hal yang terbaik adalah mensyukuri apapun yang diberikan Tuhan pada kita. Mungkin saat ini kita sedang menghadapi masalah, ujian, cobaan, musibah, atau apapunlah kita menyebutnya yang sangat mempengaruhi kejiwaan dan ketenangan hidup kita. Satu hal yang ingin saya katakan: BERSYUKURLAH. Mungkin itu yang terbaik yang harus kita terima saat ini. Bukan untuk menerima kesalahan atau kekalahan, tetapi untuk belajar sesuatu, mencari nilai, dan mengumpUlkan bahan untuk memperbaiki diri dan membangun visi.

Kawan, jika hal ini masih sulit buat kita, karena mungkin ada saat logika tidak bisa bersatu dengan perasaan, maka renungkanlah hal ini.

Sangat dekat dengan kita, Tuhan memberikan orang-orang terbaik yang akan membuat kita kuat dan bertahan. Mereka adalah energi kita. Mereka adalah kekuatan kita. Mereka adalah harapan dan penghargaan yang tiada akhir. Siapa mereka?

1. Kedua orang tua kita
Mereka adalah sabab musabab kita. Kita lahir dari persemaian cinta mereka. Sekali lagi, kita lahir dari CINTA mereka. Kita hidup sampai hari ini juga karena semangat, harapan, dan doa-doa mereka. Mereka terus mencintai kita seperti seakan-akan kita masih kecil yang selalu membutuhkan kasih sayang. Sampai kapanpun cinta mereka tidak akan berubah. Bagaimanapun bentuk sikap mereka terhadap kita, dalam hati mereka CINTA yang tulus tetap membara.

2. Pasangan hidup kita (Suami atau Istri)
Mereka adalah orang terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk kita. Mungkin dalam perjalanan hidup kita ada konflik yang begitu besar. Namun semua itu wajar dalam setiap bahtera rumah tangga, karena di sana ada dua kepala dengan visi yang belum tentu sama. kalaupun visinya sama, cara yang ditempuh bisa berbeda. Atau mungkin suatu saat kita dihadang badai yang begitu besar yang bahkan siap menghancurkan rumah tangga kita. Di saat itulah kita butuh saling menguatkan satu sama lain. Suami istri adalah perpaduan antara kekurangan dan kelebihan. Masing-masing saling melengkapi. Apapun kondisi kita selama cinta masih dipegang teguh, badai akan mampu diterjang.

3. Anak-anak kita
Mereka adalah keajaiban paling nyata yang diperlihatkan Tuhan dan diberikan pada kita. Dari mereka kita belajar mencintai dan menyayangi dengan tulus. Dari mereka kita belajar kesabaran. Dari mereka kita belajar untuk terus bertahan dan berjuang. Karena mereka kita terus bersemangat untuk mencapai kemenangan.

Kawan, itulah orang-orang terbaik yang diberikan Tuhan kepada kita. Mereka begitu dekat. Mereka begitu erat. Mereka begitu hebat. Dan kita semua disatukan oleh kekuatan dahsyat bernama CINTA.

Mari kita bersyukur karena memiliki mereka. Dan kepada siapapun yang bangga dan merasa hebat atas prestasi dan kesuksesannya: JANGAN SOMBONG. KALAUPUN ANDA HEBAT SAAT INI, KALAUPUN ANDA BERPRESTASI, KALAUPUN ANDA SUKSES.... ITU BUKAN SEMATA-MATA KARENA ANDA HEBAT. ITU KARENA ORANG-ORANG DI SEKITAR ANDA YANG PERCAYA DAN SELALU BERDOA UNTUK ANDA. ITU KARENA TUHAN MENGANUGERAHKAN ORANG-ORANG TERBAIK DALAM HIDUP ANDA.