Minggu, 30 Oktober 2011
Belajar dari Nenek Tua Renta
Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke tempat salah satu saudara di Kepanjen, Kabupaten Malang. Kalau tidak salah nama desanya Banjarsari Kecamatan Ngajum. Letaknya agak ke dalam dan saya harus melewati jurang yang agak curam di bawah jembatan yang menghubungkan jalan raya Kepanjen ke Karangkates dan ke Gunung Kawi. Jalan itu sedianya sebagai jalan lingkar yang akan mempermudah akses masyarakat menuju Blitar ataupun Gunung Kawi.
Di tempat saudara itu, tepatnya di rumah orang tua saudara saya itu saya bertemu dengan neneknya yang usianya berkisar 80 tahun lebih. Jalannya sudah tertatih-tatih, mungkin karena usia atau juga mungkin karena ia baru saja sembuh dari penyakit stroke-nya. Namun demikian, ia tampak tegar dan penuh semangat. saya tidak melihat ada kelemahan, putus asa, ataupun kemalasan dalam sikapnya. Sort matanya juga masih berbinar penuh kebahagiaan. Senyumnya juga selalu menyungging saat ia disapa oleh banyak orang, termasuk saat ia menyambut saya.
Yang menarik dari dia adalah saat diajak bicara. Ia bercerita begitu banyak, kisah hidupnya dulu sampai sekarang. Ia bercerita penuh gairah. Termasuk juga bagaimana ia menghadapi saat-saat sulit dengan penyakitnya. Di situlah saya kembali disadarkan bahwa semangat bisa mengalahkan segalanya, termasuk kelemahan dan ketidakberdayaan secara fisik. Saya tahu teorinya, tapi saya saat itu betul-betul tahu dan bertemu dengan orang yang memiliki pengalaman itu. Dan dia adalah orang yang sudah sangat tua.
Yang lebih menarik dan membuat saya tersadar akan kekalahan saya dibanding dia adalah ceritanya bahwa di usia yang sudah sangat tua dan kondisi fisik yang lemah, apalagi habis terserang penyakit berat seperti stroke, ia masih rajin ikut pengajian ke mana-mana. Ia masih ingin selalu belajar. Juga soal sholat, bukan hanya lima waktu, tetapi juga sholat-sholat sunnat, ia begitu rajinnya. Bahkan tiap jam tiga pagi ia sudah bangun dan sholat tahajud, bersimpuh di hadapan Allah, hingga menjelang subuh. Apa katanya? "Ya, mumpung aku masih diberi kekuatan sama Allah untuk berdiri dan bergerak, aku akan tetap selalu berusaha untuk mendirikan sholat. Kekuatan ini selalu aku syukuri."
Masya Allah. Saya tersadar begitu hinanya saya. Begitu lemahnya saya dibandingkan orang ini. Secara fisik saya lebih kuat, mengapa saya tidak bisa melakukan apa yang orang tua ini lakukan? Ternyata, ia lebih kuat dibandingkan saya. Yang kuat adalah mentalnya. Mungkin fisiknya lemah, tapi mentalnya tidak. Oh, Tuhan maafkan aku. Hari ini aku belajar dari orang tua renta ini untuk mensyukuri nikmatmu. Hari ini kau beri pelajara berharga untukku. Maafkan aku Tuhan, maafkan aku..... Aku akan datang kepadamu dengan segenap kekuatanku.....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar