Apa yang kita cari dalam hidup ini? Kebahagiaan. Apapun yang kita lakukan, kita upayakan, kita perjuangkan, semua untuk mendapatkan apa yang disebut kebahagiaan ini. Bahkan kadang kita rela melakukan sesuatu yang tidak membahagiakan demi mendapatkan kebahagiaan yang kita dambakan di akhir proses (sebagai kasil akhir). Pertanyaannya: apa sih kebahagiaan itu? Apa indikatornya? Apa ukuran-ukurannya? mari kita berdiskusi sejenak soal ini.
Ada yang mengatakan saya mendapat kebahagiaan saat saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Tentu ini tidak salah. Tetapi kadang faktanya tidak seperti itu. Kita sering mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi belum kebahagiaan yang kita dapat. Kita baru dapat kepuasan. Kesenangan sesaat. Bukan kebahagiaan yang menentramkan. Lalu apa dong?
Ada yang bilang juga saya mendapat kebahagiaan saat saya bisa bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan ke dalam hidup saya. Saat saya menerima dengan lapang dada setiap apapun yang ditimpakan ke saya oleh Tuhan, termasuk masalah, kesulitan, kesempitan, dan lain-lain. Saya bahagia saat saya bisa mensyukuri bahkan hal-hal yang kecil. Emmm.... bisa juga.
Sebenarnya kebahagiaan itu relatif. Kebahagiaan kadang tak bisa diukur dengan sesuatu yang besar (paling tidak tidak selalu begitu). Kadang sesuatu yang kecil bisa juga mendatangkan kebahagiaan. Bukan besar atau kecilnya, tetapi maknanya bagi kita.
Bagimana dengan uang? Menurut saya uang juga bisa mendatangkan kebahagiaan bisa juga tidak. Tergantunglah... Bagi sebagian orang uang bukanlah indikator kebahagiaan (terutama bagi orang-orang yang tidak punya uang, kekurangan uang, pas-pasan. Hehehe...). Alasan mereka: mereka melihat banyak orang yang punya banyak uang tapi nggak bahagia juga. Yah... mungkin bukan uang yang membuat mereka tak bahagia. Kan indikatornya bukan hanya uang. Sebagian besar dari orang yang berpandangan seperti ini adalah apologize people. Kasarnya, mereka bilang begitu karena mereka nggak punya banyak uang. Hehehe... (Maaf)
Mereka juga bilang: UANG TAK AKAN BISA MEMBELI KEBAHAGIAAN. Wou... ngeri sekali pernyataannya. Tapi saya pernah baca buku yang meng-counter pernyataan ini. Uang itu bisa membeli kebahagiaan, yakni ketika dengan uang itu kita bisa membantu orang lain yang sangat membutuhkan tanpa menginginkan atau mengharap imbalan. Bayangkan jika ada orang terlilit utang, diburu debt collector, rumah tangganya di ambang kehancuran karena masalah ekonomi, lalu Anda datang memberikan uluran tangan membantu mereka. Betapa bahagianya mereka. Dan ketika Anda rasakan kebahagiaan mereka, saya yakin Anda pun akan bahagia. Semua itu karena Anda membantunya dengan tulus. Itu akan terjadi jika Anda sendiri tidak bermasalah secara keuangan. bahkan Anda termasuk golongan orang yang melimpah secara keuangan, sehingga Anda tak pernah takut atau menyesal kehilangan uang.
Jika kondisinya seperti ini, kira-kira siapa yang lebih berbahagia: orang yang punya kelimpahan uang atau orang yang kekurangan uang. Saya yakin jawabannya pasti orang yang berkelimpahan uang yang bisa membantu orang lain dengan tulus menggunakan uangnya. (Semoga kita bisa menjadi orang yang seperti ini. Amin...).
Bersambung.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar