Jumat, 25 Maret 2011

Dua Orang Tua Renta di Pinggir Jalan

Pagi itu saya terburu-buru karena agak telat mengantarkan anak saya sekolah. Semalam saya ngelembur mengedit buku dan paginya telat bangun. Saya tahu pagi adalah jam sibuk. Jalanan seperti penuh. Mobil dan motor berseliweran. Untungnya, ini Malang, bukan Jakarta atau Surabaya. Saya tak bisa membayangkan jika berada di sana.

Di antara hiruk pikuk lalu lintas, kemacetan, asap, dan peluit polisi, mata saya tiba-tiba menyangkut pada pemandangan yang luar biasa. Di sudut perempatan dekat lampu merah saya melihat sepasang kakek-nenek saling memapah berjalan tertatih-tatih menyusuri trotoar. Entah mereka mau menuju ke mana. Karena saya sedang terburu-buru, maka tak sempat lagi memeperhatikan langkah mereka yang terseok tertatih-tatih itu.

Dalam pandangan sekilas itu sang nenek berusaha menahan badan sang kakek dengan merangkulkan lengan keriputnya di atas pundak sang kakek. Sementara tangan kanannya berusaha menahan badan kakek agar tidak terhuyung dan jatuh. Mereka seakan sedang berusaha keras agar tetap bisa berjalan menuju arah entah ke mana.

Tiba-tiba saya lupa bahwa waktu sedang memburu. Mungkin teman-teman anakku sudah pada berdoa, atau bahkan sudah masuk kelas. Pikiranku tiba-tiba sibuk sendiri. Ada yang menggangguku. Semacam empati yang entah berantah tidak tahu datangnya dari mana. Mungkin sisi nurani dan kemanusiaan yang menyeruak. Siapa mereka? Di mana rumahnya? Apa mereka punya rumah? Di mana anak-anak mereka yang diperjuangkan mati-matian agar hidupnya tidak menderita. Mengapa mereka (anak-anaknya) membiarkan sepasang tua renta yang begitu rapuh berada di jalanan di antara gerombolan pengemis lain. Tegakah anak-anak mereka melihat orang tuanya seperti itu?

Kilatan-kilatan pertanyaan itulah yang menggangguku. Sungguh, saya seperti merasakan kepedihan yang dipendam dalam hati si tua renta itu. Betapa sakitnya dalam usia serenta itu masih harus berjuang untuk bertahan hidup. Seakan-akan tak memiliki siapa-siapa lagi untuk dijadikan tumpuan.

Mungkin anak-anaknya kini telah mapan dan sangat sibuk dengan pekerjaan dan rumah tangga masing-masing, sehingga tak kan lagi sempat memperhatikan dan memberi kasih sayang orang tuanya. Karena mungkin juga mereka kini telah menjadi orang tua yang harus memperhatikan anaknya. Mereka terlalu cinta pada anaknya. Mereka betul-betul merasakan arti seorang anak yang tak akan pernah lepas sedikitpun dari kasih sayang yang tulus. Mereka betul-betul merasakan arti seorang anak dalam hidupnya, yang bahkan siap mengorbankan apa saja demi buah hatinya itu.

Namun sayang, mereka tidak lagi sadar bahwa ada orang yang telah lebih dulu menjadi seperti dirinya saat ini sebagi orang tua yang selalu tulus dan siap berkorban apa saja demi anaknya, yaitu kedua orang tuanya sendiri. Mereka mungkin tak lagi merasa betapa kasih sayang dan cinta itu masih utuh. Terbukti dengan usia yang setua dan serenta itu mereka tak ingin merepotkan dan mengganggu rumah tangga anaknya. Mereka tak ingin membebani anaknya. Mereka akan berjuang untuk bertahan hidup sendiri hingga mati tanpa membuat terganggu anak-anaknya yang kini sedang membangun kebahagiaan dalam rumah tangganya.

Atau mungkin juga, anak-anaknya sedang mengalami masalah ekonomi yang serius. Kalaupun tidak serius atau genting, mungkin masih dalam situasi kekurangan, sehingga dua orang renta itu tak ingin beban anaknya semakin berat dengan menanggung hidup mereka. Mungkin juga seperti itu.

Atau mungkin juga mereka berdua tak lagi memiliki siapa-siapa. Bahkan seorang anak.
Semua itu hanya kemungkinan. Namun semua kemungkinan itu telah menjejali otak dan perasaan saya, dan semua berbalut pedih. Dalam hati saya berdoa: Ya Allah, izinkan hamba untuk cukup dan bahagia. Dan izinkan hamba untuk menjamin dan membahagiakan orang tua kami, seperti mereka telah berusaha untuk menjamin dan membahagiakan kami. Ya Allah, izinkan saya untuk terus memiliki kasih sayang dan cinta pada orang tua kami, dalam kondisi apapun kami berada. Dan tetap limpahkanlah pertolonganmu agar kami bisa terus berbakti kepada mereka. Kami tidak ingin kedua orang tua kami seperti sepasang tua renta di jalan itu. Kami ingin mereka semakin terhormat di usia mereka yang akan terus menjadi tua.

Tuhan, izinkan kami bahagia dengan keinginan itu semua. Terimakasih, Tuhan, Kau telah mengingatkan dan menyadarkanku dengan melihat sepasang orang tua renta di pinggir jalan itu. Terimakasih sekali lagi.

Tak terasa air mataku berlinang. Dan di saat saya mulai sadar, ternyata saya sudah ada di pintu gerbang sekolah anakku di TK Aisyah Cita Insani.

Malang, Minggu 20 Maret 2011 pukul 02.00 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar