Sabtu, 19 Maret 2011

Manusia dan Keluh Kesah

Siang tadi waktu mengikuti shalat Jumat, saya mendengarkan dengan baik isi khotbah yang disampaikan khatib. Dia mengutip ayat Alquran yang menyebutkan bahwa manusia itu diciptakan dengan penuh keluh kesah. Jika ditimpa keburukan maka ia akan mengeluh dan mengumbarnya pada banyak orang. Sedang jika ia mendapat kebaikan cenderung menyimpannya sendiri dan enggan untuk berbagi. Kecuali orang-orang yang shalat, yang benar-benar sungguh dalam shalatnya.

Saya lupa itu surat apa dalam Alquran. Yang pasti pesannya jelas: yang namanya manusi sudah dari sononya memang penuh keluh kesah. Dan ini sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di lingkungan kita tentu banyak yang mengalami hal ini. Bahkan saya yakin kita sendiri punya kecenderungan itu. Seakan-akan sudah selayaknya keburukan, kekurangan, ketidaknyamanan kita ingin bagikan kepada orang lain biar mereka tahu bahwa kita kekurangan, bahwa kita sedang mengalami hal yang tidak baik.

Namun sebaliknya, jika kita mendapat sesuatu yang baik, atau semisal mendapat rezeki besar, maka kita cenderung diam. Kadang karena takut orang lain menginginkannya dari kita.

Setidaknya, itulah tafsir yang disampaikan sang khatib siang tadi. Saya jadi merenung: berarti wajar jika manusia selalu sambat (mengeluh). Namun ada sedikit orang yang tidak akan mengalami atau melawan kecenderungan alamiah ini, yaitu mereka yang memang benar-benar bersungguh-sungguh dalam ibadahnya. Artinya, mereka itulah yang merupakan manusi bijak dan bisa menguasai dirinya untuk tidak mengumbar kejelekan, keburukan, atau ketidakbaikan kondisi yang dialaminya. Dan mereka adalah orang pilihan. Mereka sadar dan ikhlas mengalami apapun yang harus dialami. Mereka tahu dan menyadari Tuhan sedang menetapkan rencana yang lebih baik setelah ini. Ia ikhlas… ia percaya.

Kawan, betapa sering kita melihat dan menyaksikan, bahkan mengalami keluh kesah itu keluar dari mulut siapa saja di sekitar kita. Seakan-akan hidup tak ada sempurna-sempurnanya. Lalu kapan kita bersyukur? Kapan kita berterimakasih atas hal-hal kecil yang telah dianugerahkan Tuhan pada kita yang sesungguhnya punya makna yang sangat besar? Kapan kita mau mensyukuri segala nikmatnya? Saya yakin, kawan, jika kita mau bersyukur, hidup ini akan terasa lebih ringan. Semua akan menjadi penuh hikmat dan nikmat.

Saya pernah dengar satu kisah: diceritakan, di sebuah pulau yang terpencil ada seorang hamba Allah yang menyendiri dan tinggal di sana. Ia tidak punya aktifitas lain selain ibadah dan bersujud kepada Allah. Bahkan, saking salehnya, ia tak pernah mencari makan. Makanan datang dengan sendirinya. Allah memberinya rezeki dengan mengutus burung-burung dan makhluk lainnya untuk mengmberikan makanan untuk dia, karena dia adalah hamba yang disayangi Allah. Karena kemuliaannya itulah ia yakin akan mendapat tempat terhormat di surga. Ia merasa sangat berhak atas surga yang dijanjikan karena ibadahnya yang melebihi orang lain.

Namun, apa yang terjadi, kawan. Ia belum dimasukkan surga. Karena belum masuk surga, ia menuntut haknya kepada Allah. “Wahai Allah Tuhanku, mengapa hamba belum masuk surga, padahal hamba selama hidup sudah mengabdi penuh kepadaMu. Bukankah hamba berhak atas surgaMu?”

Lalu Allah bertanya kepada sang hamba: “Mengapa engkau merasa berhak atas surga? Apakah karena ibadahmu kepadaku yang melebihi orang lain? Kalau itu alasanmu, mari kita timbang seberapa besar amal ibadahmu dibandingkan nikmat yang telah aku anugerahkan kepadamu.”

Lalu ditimbanglah amal ibadah sang hamba itu dengan indera mata sebagai anak timbangannya. Apa yang terjadi? Ternyata, indera mata yang diberikan Allah lebih berat dari amal ibadah yang telah dilalukannya seumur hidupnya. Itu baru nikmat berupa mata. Belum yang lain; telinga, mulut, hidung, tangan, kaki, napas, dan lain-lain. Ternyata nikmat Allah yang diberikan kepada manusia jauh lebih besar dibandingkan amal ibadah yang mungkin bisa dilakukan manusia. Artinya apa? Apa yang telah diberikan Allah pada kita tidak akan pernah sebanding dengan apapun yang kita lakukan untukNya.

Akhirnya, Allah memberinya pelajaran: “Jika hambaku masuk surga itu bukan karena ibadahnya, itu karena kasih sayangku.” Subhanallah…. Allah Maha Besar. Allah Maha Bijaksana.

Saudaraku….

Dengan pelajaran ini, marilah kita bersama-sama memperbaiki diri. Marilah kita awali hari-hari kita dengan syukur kepadaNya. Mari kita hiasi hati kita dengan rasa terimakasih yang tulus padaNya. Sungguh kenikmatannya tak bisa dinilai dengan apapun kecuali dzikir Alhamdulillah dari mulut dan hati kita.

Malang, Jumat, 18 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar