Apa itu takdir? Takdir adalah apa yang sudah terjadi. Yang belum terjadi adalah misteri.
Begitulah hidup. Masa-masa yang telah kita lampaui adalah takdir yang tidak akan kembali, yang hanya akan jadi kenangan, atau malah telah kita lupakan. Sementara masa depan adalah misteri yang masih terbuka lebar. Kadang terlihat kabur, kadang tampak begitu jelas. Namun satu hal yang pasti: misteri itu akan menjadi takdir seperti apa tergantung pada keputusan kita sendiri. Lalu di mana peran Tuhan? Tuhan adalah penentu akhir apa yang terbaik untuk kita. Dan Dia Maha Tahu atas apa yang baik dan buruk bagi kita.
Mari kita perjelas ini dengan satu gambaran yang lebih mudah. Coba Anda buka kedua telapak tangan Anda dan perhatikanlah. Di sana Anda bisa lihat garis-garis telapak tangan yang membentuk angka 18 dan 81 dalam bahasa Arab. Itulah garis hidup kita. Itulah rancangan takdir kita. Semua sudah tergariskan di situ; jodoh, rezeki, mati, dan lain-lain. Sekarang coba genggamkan telapak tangan Anda dan lihatlah: garis-garis angka itu hampir semua tergenggam. Hanya sedikit yang tidak. Itulah garis yang ada dalam kuasa Tuhan. Sementara sebagian garis yang dapat kita genggam itu adalah kekuasaan kita sendiri. Artinya apa? Kita memiliki hak yang besar untuk menentukan hidup dan masa depan kita sendiri. Kita bisa dan boleh memilih siapa jodoh kita. Kita bisa dan boleh memilih jalan rezeki kita. Kita boleh dan bisa memilih akan mati seperti apa. Kita diberi kebebasan oleh Tuhan menentukan itu semua. Selebihnya adalah Tuhan yang memberi keputusan akhir apakah akan sesuai dengan yang kita inginkan atau tidak. Apapun yang terjadi kemudian adalah yang terbaik. Ingat satu hal: Tuhan tidak memberi yang kita inginkan. Ia memberi yang kita butuhkan.
Nah, bicara soal keinginan dan kebutuhan tentu tidak bisa lepas dari sifat alamiah manusia, karena secara lahiriah dan alamiah kedua hal ini sangat inheren dalam diri manusia. Ia membutuhkan sesuatu dan sekaligus menginginkan sesuatu. Namun demikian, kedua hal ini bisa kontradiktif dan juga bisa beriringan. Bisa jadi kita menginginkan sesuatu dan memang membutuhkannya. Kadang pula kita menginginkan sesuatu meski sebenarnya kita tidak membutuhkannya. Atau sebaliknya, kita membutuhkan sesuatu tetapi kita tidak menginginkannya. Bisa juga kita membutuhkan sesuatu dan mau tidak mau kita harus menginginkannya. Bingung ya? Nggak apa-apa, bingung aja. Saya juga bingung kok. Hahaha….
Intinya, itulah sifat dasar yang dimiliki manusia. Namun yang ingin saya tekankan di sini adalah kita harus menerima apapun yang terjadi pada kita sebagai bagian dari proses hidup. Mengapa proses hidup? Karena kita adalah makhluk yang dinamis. Makhluk yang selalu dalam proses menjadi, sehingga apapun yang terjadi pada kita bukanlah akhir dari segalanya. Semua adalah situasi yang belum berhenti, hingga kemudian kita mati. Saat itulah proses hidup berhenti. Siklus proses mati.
Terus maksudnya apa tulisan ini? Kok tambah mbulet? Maksudnya begini lho Bro… kadang hidup tidak berjalan sebagaimana yang kita inginkan. Kadang ia seperti punya arah sendiri yang mau tidak mau harus kita ikuti. Itu berarti apa yang kita inginkan adalah bukan yang kita butuhkan saat itu. Dan yang tahu itu adalah Tuhan. Mungkin suatu saat kita menginginkan kebaikan, tetapi justru yang datang adalah keburukan. Jika kita mau belajar dan mengambil hikmah, mungkin Tuhan sedang menunjukkan pada kita bahwa kebaikan yang kita idamkan bukanlah kebaikan yang tepat untuk kita. Ada kebaikan yang lebih baik dari itu, namun untuk melihat dan mendapatkan itu dibutuhkan kondisi kita harus mengalami keburukan terlebih dulu. Tuhan seperti sedang ingin mematangkan proses kita. Tuhan seperti sedang mendewasakan kita.
Saya akan mengutip SMS dari seorang teman:
Saat kita memohon kekuatan,
Tuhan memberi kita banyak kesulitan untuk menjadi kuat
Saat kita memohon hikmat,
Tuhan memberi kita persoalan untuk menjadi bijak
Saat kita meminta kekayaan,
Tuhan memberi kita kemampuan untuk bekerja
Kita tidak menerima dari Tuhan apa yang kita inginkan
Tetapi kita menerima sesuatu menurut kehendaknya
Mari kita syukuri apa yang telah kita dapat hari ini.
Lalu apa hubungannya dengan takdir dalam genggaman?
Baik atau buruk Tuhan lebih tahu daripada kita. Namun kita sebagai manusia tentu punya standar kebaikan dan keburukan berdasarkan rasionalitas universal manusia. Di balik itu semua Tuhan yang Maha Tahu. Kita tetap bisa menginginkan dan bahkan merencanakan apa yang baik dan tepat untuk kita berdasarkan pertimbangan alamiah kita dan standar kebaikan universal kita sebagai manusia. Kalau itu tepat, tentu Tuhan bisa menyetujui dan merestuinya. Tuhan Maha Baik dan Maha Bijaksana. Dan hal terbaik yang harus kita lakukan adalah berprasangka yang baik terhadapNya.
Jadi, kita boleh menginginkan yang terbaik, bahkan dengan sangat spesifik. Kita wajib bekerja keras untuk memperjuangkan keinginan dan harapan kita. Namun di atas semua itu, Tuhan memiliki cara sendiri untuk mewujudkannya bagi kita.
Hal lain yang ingin saya sampaikan di sini, kalau garis takdir terbesar ada dalam genggaman kita, dan Tuhan hanya mengambil peran sangat sedikit, mengapa kita rela menyerahkan nasib kita pada orang lain. Mengapa kita membiarkan orang lain mengendalikan kita? Menentukan nasib kita? Saya tidak akan memperjelas hal ini. Silakan Anda tafsirkan dan perjelas sendiri.
Satu hal lagi (dan saya janji ini yang terakhir) yang ingin saya tekankan pada Anda; kalau Anda adalah penentu hidup Anda, mengapa Anda tidak mulai membuat rencana besar untuk kebebasan Anda sendiri? Membebaskan diri Anda dari diatur orang lain, diperintah orang lain, ditekan orang lain, membiarkan waktu Anda dirampas, tenaga Anda diperas?
Kawan, bebaskan diri Anda. Mulailah menjadi bos bagi diri Anda sendiri. Ada banyak jalan di luar sana menunggu Anda menjadi manusia bebas.
Go Freedom! (Maaf jika bagian terakhir ini agak provokatif. Maaf… Bener-bener saya minta maaf).
Malang, Jumat, 18 Maret 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar