Jumat, 25 Maret 2011

Rendah Hati Vs Rendah Diri

Salah satu sifat terbaik dan sangat mulia yang bisa dimiliki manusia adalah sifat rendah hati. Rendah hati kalau dalam istilah bahasa Arab biasanya sering disebut tawadhu. Rendah hati adalah menerima kebenaran dengan tulus dan lapang dada dari manapun atau dari siapapun kebenaran itu datang.

Pengertian ini tampaknya sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat luas. Dan justru karena kesederhanaannya, hal ini seringkali sulit dilakukan. Mari kita kupas sedikit soal ini.

Kadang-kadang, kita menilai diri kita terlalu tinggi sehingga kita (dalam hati) merasa sudah cukup pintar, sudah banyak tahu, dan sudah hebat, sehingga apapun yang baik dan benar yang datang dari orang lain seringkali enggan kita dengar atau kita terima dengan senang hati dan lapang dada. Apalagi jika hal itu datang dari orang yang, misalkan, lebih rendah status sosialnya daripada kita, tidak lebih berpendidikan atau terdidik daripada kita, usianya di bawah kita, kenyataan hidupnya lebih susah daripada kita, atau ia hanya orang gila atau masih anak-anak, atau dia adalah orang yang tidak kita sukai. Seringkali kita merasa seakan-akan (seperti berujar dalam hati:) “aku sudah tahu,” “gayamu!” “siapa sih lo??” “kelincipen (Jawa: terlalu sok).”

Hebatnya, gumam atau rasa itu tidak serta merta kita tunjukkan atau verbalkan. Mungkin itu hanya ada dalam hati, sedang bibir kita tersenyum seakan menerima. Itu berarti kita tidak rendah hati. Kita sombong.

Lawan dari rendah hati adalah sombong. Sombong artinya tak mau menerima kebenaran atau kebaikan dari siapapun atau apapun yang datang dari luar dirinya. Sombong bukanlah ekspresi. Ia ada di dalam hati. Namun, ia bisa diekspresikan. Sombong adalah sifat yang sangat berbahaya. Saya ingat seorang teman punya istilah yang tepat: “Jika kau merasa matang, maka sebentar lagi kau akan membusuk.”
Begitulah memang. Buah yang sudah matang, apalagi sangat matang, maka apa yang akan terjadi kemudian? Bukan lagi lambat laun, tetapi segera ia akan membusuk. Seperti itu pula jika kita sudah merasa hebat, merasa pintar, merasa tinggi, maka sebenarnya kita sangat dekat dengan kehancuran.

Sekarang pun Anda bisa menguji diri sendiri. Anda membaca tulisan ini. Rasakan, reaksi apa yang ada dalam hati Anda. Jika Anda diam-diam merasa dan menganggap yang menulis ini sok pintar, sok baik, sok bijaksana, karena mungkin Anda mengenal penulisnya dan tahu seperti apa kehidupan bahkan kepribadiannya yang mungkin Anda nilai tidak sebanding dengan apa yang ditulisnya, berarti Anda masih sombong. Anda merasa digurui. Tetapi, jika Anda membaca tulisan ini dan menangkap apa yang benar dan baik yang kemudian Anda terima dengan lapang dada dan (kalau perlu) dengan memberi sedikit penghargaan pada penulisnya (seperti berkata dalam hati: “ya..ya.. benar juga”), maka Anda sudah memiliki sifat rendah hati ini. Dan itu berarti Anda adalah orang baik dan akan menjadi orang yang mulia. Saya berdoa semoga hidup Anda diberi kebahagiaan dan kemudahan. Semoga Anda dimuliakan oleh Tuhan.

Sekali lagi, sifat rendah hati adalah sifat yang baik. Dan sifat ini merupakan bagian dari sifat orang-orang yang bertakwa. Saya akan mengutip Zainudin MZ. Takwa sering diartikan menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya, tetapi sesungguhnya takwa memiliki dimensi makna yang lebih luas daripada itu. Menurut yang saya dengar dari Zainudin MZ, dai kondang dari Betawi yang dapat sebutan Dai Sejuta Umat, dan juga dari kiyai saya waktu saya ngaji dulu, takwa adalah perpaduan dari empat sifat mulia. Jika seseorang memiliki sifat-sifat ini, maka ia tergolong orang-orang yang bertakwa dan dijamin kemuliaannya di sisi Allah. Apa empat sifat itu?

1.Tawadhu (rendah hati), artinya mau menerima kebenaran dan kebaikan, dari manapun datangnya kebaikan dan kebenaran itu.

2. Qana’ah (ikhlas), artinya mau dengan lapang dada menerima apapun yang diberikan Allah padanya, baik atau buruk, enak atau tidak enak. Dengan kata lain: selalu bersyukur dan positive thinking sama Allah.

3. Wara’ (hati-hati), artinya betul-betul menjaga diri dari apapun yang tidak baik, entah itu rezeki yang tidak halal atau subhat, atau menjaga tingkah laku dan ucapan. Dengan kata lain, menjaga sikap, mulai dari pikiran, hati, hingga perbuatan.

4. Yakin, artinya segala sesuatu disikapi dengan iman. Betul-betul percaya sama Allah. Allah-lah penolongnya. Allah-lah yang selalu bersamanya.

Keempat sifat ini tampaknya sangat sederhana dan agak remeh, tapi keempat sifat itulah yang akan menjadi sumber kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Maaf, saya sedang tidak berkhotbah atau menggurui Anda. Saya hanya ingin berbagi kebaikan yang mungkin sebagian besar dari Anda sudah tahu.

Rendah Hati Vs Rendah Diri

Mari kita lanjutkan. Orang seringkali tidak bisa membedakan antara rendah hati dan rendah diri. Keduanya sangat berbeda. Rendah hati berkonotasi positif, sementara rendah diri berkonotasi negatif. Rendah diri adalah bagian dari sifat jelek yang mampu membunuh karakter sendiri. Sekaligus, sifat itu menghilangkan penghargaan terhadap diri sendiri dan itu juga berarti kita meremehkan ciptaan Allah.

Rendah diri itu menganggap diri sendiri tak mampu, kurang baik, tak layak, tak berarti, kecil, inferior, rendah. Ini sifat yang mengerdilkan dan membunuh. Biasanya orang yang rendah diri tak punya kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia tak punya penghargaan pada diri sendiri. Ia lupa bahwa ia juga punya potensi. Ia juga punya kelebihan. Itulah mengapa sifat ini sangat jelek. Dan sifat inilah yang mempengaruhi kegagalan manusia.

Meski demikian, kadang rasa rendah diri ini menyeruak sewaktu-waktu, terutama saat kita dihadapkan pada hal yang lebih tinggi daripada kita. Namun kabar baiknya, rendah diri ini, sebagaimana juga sifat sombong, bisa dilawan. Sementara sifat rendah hati bisa dilatih jika kita mau. Artinya, semua masih terbuka bagi manusia. Manusia selalu memiliki kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Tergantung manusia sendiri mau menggunakan kesempatan itu atau tidak.

Baik, kawan. Saya kira cukup itu sajalah obrolan kita soal ini. Mari kita berkaca dan bercermin dengan naluri dan hati nurani kita sendiri. Mari kita sama-sama berlatih untuk memiliki sifat mulia ini. Saya ingin membagikan doa yang diajarkan ustad saya (H. Hammam Munaji dari Talun Bojonegoro) waktu masih sekolah di tsanawiyah dulu:

“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang sabar. Jadikanlah aku orang yang pandai bersyukur. Jadikanlah aku orang yang besar di mata orang lain, namun kecil di mataku sendiri.” Amiiiiiin.

Malang, Minggu, 20 Maret 2011

1 komentar:

  1. assalamualaikum
    terima kasih atas ilmunya, kak saya mau bertanya, definisi rendah diri yang kk cantumkan dalam artikel ini di ambil dari mana? maksud saya buku apa gtu kak

    BalasHapus